TERNYATA Sekar Mirah sudah benar-benar didesak oleh
keinginannya untuk pergi, sehingga ia pun segera menemui ayahnya dan
menyampaikan keinginannya itu.
“Bukan saja karena aku ingin bertemu dengan kakang Agung Sedayu,” berkata Sekar
Mirah, “tetapi aku juga ingin melihat, apakah padepokan yang dibangunnya itu
melampaui padepokan-padepokan yang pernah aku lihat sebelumnya.”
Sumangkar yang ada pula pada saat itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata Ki Demang pun tidak berkeberatan. Hanya Swandaru sajalah yang agaknya
mempunyai penilaian lain. Katanya, “Kau harus menjaga dirimu Mirah. Kau adalah
seorang gadis. Dan kau bukan anak orang kebanyakan yang dapat diperlakukan
sekehendak hati. Jika kau ingin juga melihat padepokan itu, kau harus bersikap
sewajarnya bagi seorang gadis yang berkedudukkan.”
“Tentu kakang.” Jawab Sekar Mirah, “aku tidak akan pergi ngunggah-unggahi.
Tetapi aku ingin melihat, apakah padepokan itu ada nilainya bagi kami.”
“Ah,” Ki Sumangkar berdesis, “nilai sesuatu ujud memang mempunyai ukuran yang
dapat dihayati secara umum oleh kebanyakan orang. Tetapi kita menilainya dengan
bekal dan keinginan yang lain, maka nilai itu pun akan dapat berubah-ubah
menurut dasar penilaian masing-masing. Mungkin padepokan itu sangat berarti
bagi Agung Sedayu, tetapi sama sekali tidak bernilai bagi orang lain. Itulah
sebabnya, maka kewajaran sikap yang sesuai dengan pesan angger Swandaru adalah
meragukan sekali, karena yang wajar itu pun kadang-kadang sama sekali tidak
wajar.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kiai, apakah
Sekar Mirah tidak berhak ikut berbicara tentang masa depannya sendiri? Jika
kita mengakui hubungan apakah yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah,
maka adalah wajar menurut penilaian yang wajar pula, bahwa Sekar Mirah ingin
ikut menentukan apakah jalan akan dilaluinya bersama Agung Sedayu sudah
menemukan arah yang tepat? Kitapun tidak dapat mengingkari, bahwa Sekar Mirah
tentu ingin melihat kedudukan Agung Sedayu seimbang dengan kedudukan kelak. Aku
adalah Demang di Sangkal Putung dan Kepala Tanah Perdikan di Menoreh atas nama
isteriku. Sudah barang tentu aku tidak akan sampai hati melihat adikku
satu-satunya hidup terpencil di padepokan kecil yang tidak mempunyai arti sama
sekali dalam perkembangan keseluruhan bagi Pajang atau Mataram.”
Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan. Jawabnya, “Itulah yang aku maksud. Yang
wajar itu pun kadang kadang menjadi tidak wajar. Juga tingkat dan taraf
kehidupan seseorang. Bagiku, tingkat kehidupan yang layak terletak kepada diri
kita sendiri. Jika hati kita menemukan persesuaian, maka akan tenanglah hidup
kita selanjutnya.”
Swandaru memandang Ki Sumangkar dengan tajamnya. Sejenak ia pun termangu-mangu.
Namun kemudian ia tidak dapat menahan gejolak dihatinya dan berkata, “Kiai
sudah membelakangi hidup keduniawian, karena barangkali umur Kiai yang menjadi
semakin tua. Mungkin Kiai merasa sudah waktunya untuk menemukan ketenangan
hidup. Baik yang bersifat lahir apalagi batin. Tetapi bagi kami yang muda, maka
ketenangan hidup masih harus dinilai dengan sikap kemudian kami. Justru kamilah
yang seharusnya memberikan bentuk dan warna kepada keadaan disekitarnya. Bukan
sekedar menyesuaikan diri menurut apa adanya. Dengan demikian maka semua usaha
akan terhenti, dan kita akan tetap dalam keadaan kita seperti sekarang tanpa
kemajuan apapun juga.”
Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam, Katanya, “Sikap dan pendirian itu
benar. Tetapi tidak berlebih-lebihan. Jika kita ingin berbuat sesuatu, maka
kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada sebagai landasan. Justru sikap
itulah yang akan banyak merubah keadaan. Tetapi jika kita tidak mau melihat
yang ada, maka kita akan melakukan beberapa kesalahan berturut turut, karena
kita tidak beralaskan kepada kenyataan itu.” Ki Sumangkar berhenti sejenak.
Lalu. “misalnya tentang Agung Sedayu. Ia harus berjuang sekuat-kuatnya. Tetapi
ia harus berlandaskan kenyataannya sekarang. Ia harus mulai dari sebuah
padepokan kecil, karena memang hanya itulah yang dapat dijangkaunya. Di atas
alas yang ada itulah maka ia harus berjuang untuk mencapai perubahan demi
perubahan sehingga sampai pada suatu tataran yang lebih baik. Dengan menerima
kenyataan yang ada, maka semuanya akan berlangsung tanpa banyak mengeluh dan
menyesali keadaan.”
Swandaru menegang sesaat. Tetapi meskipun demikian ia dapat melihat sepercik
kebenaran pada kata-kata Ki Sumangkar. Namun, bagaimanapun juga ia menganggap
bahwa sikap itu adalah sikap yang terlampau lemah dan ketua-tuaan, seolah-olah
seseorang harus berbuat sesuatu menurut keadaan yang mungkin saja dilakukan
seadanya agar hidupnya menjadi tenang dan tenteram.
“Itu bukan perjuangan,” berkata Swandaru didalam hatinya. Tetapi ia masih
menghormati Ki Sumangkar sehingga ia tidak membantahnya lagi.
Demikianlah, maka Sekar Mirah pun segera berkemas untuk pergi. Sebenarnya
keinginan yang sama telah mendesak jantung Pandan Wangi. Tetapi ada sesuatu
yang menahannya. Ia merasa tidak pantas sama sekali untuk menyatakan
keinginannya itu kepada suaminya atau kepada siapapun juga.
Karena itu, maka ia pun menahan keinginannya itu didalam hatinya, betapapun
beratnya. Apalagi jika ia sadar, bahwa keinginannya untuk pergi kepadepokan
kecil itu bukannya sekedar ingin menilai kelemahan Agung Sedayu dan kekerdilan
usaha yang sedang dilakukan itu. Tetapi justru dengan kekaguman akan kebesaran
jiwa anak muda itu.
“Kakaknya adalah seorang Senopati besar yang disegani lawan dan dihormati
kawan. Tetapi ia tidak segan-segan bekerja keras untuk membuka sebuah padepokan
kecil yang tidak berarti. Tetapi yang dengan kemauan yang keras dibangun dengan
harapan-harapan bagi masa depannya,” berkata Pandan Wangi didalam hatinya.
Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga. Kkarena ia sadar,
bahwa dengan demikian akan dapat menimbulkan salah paham.
Ketika Pandan Wangi kemudian harus melepas Sekar Mirah pergi bersama gurunya
dan dua orang pengawal, terasa sesuatu bergejolak didalam hatinya. Namun ia pun
segera sadar, bahwa ia telah diganggu oleh perasaan iri. Dan ia pun sadar,
bahwa nalarnya harus bekerja keras untuk menekan perasaan itu dalam-dalam.
Sejenak kemudian maka Sekar Mirah diiringi oleh guru dan dua orang pengawal
telah berpacu disepanjang bulak yang panjang. Mereka pun kemudian menyusuri
jalan ditepi hutan. Meskipun menurut pertimbangan mereka keadaan sudah
berangsur baik, tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan, karena meskipun
hutan itu tidak terlampau lebat, tetapi didalamnya masih mungkin tersimpan
bahaya yang dapat menerkam mereka setiap saat.
Tetapi ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mendapat gangguan apapun di
sepanjang jalan. Karena itulah maka mereka pun tidak terhenti di perjalanan dan
sampai kepadepokan kecil itu seperti yang direncanakan.
Beberapa puluh langkah dari regol padepokan, Sekar Mirah berhenti. Dengan wajah
yang tegang dipandanginya padepokan kecil itu dari jarak yang tidak begitu
jauh.
“Marilah Mirah,” ajak gurunya, “kenapa kau berhenti ?”
Sekar Mirah memandang gurunya sejenak. Tetapi gurunya yang sudah berusia agak
lanjut itu segera dapat menangkap perasaannya. Kecewa.
Tetapi Sekar Mirah melanjutkan juga perjalanannya menuju keregol padepokan yang
terbuka itu.
Agaknya Glagah Putih yang berada di halaman depan, melihat iring-iringan yang
mendekat itu. Karena itulah maka ia pun segera berlari-lari memberitahukan
kehadiran beberapa orang tamu kepada kakak sepupunya yang kebetulan ada di
padepokan.
Agung Sedayu bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian dengan
tergesa-gesa menyongsong tamunya yang datang dari Sangkal Putung itu.
“Marilah Kiai,” Agung Sedayu mempersilahkan, “marilah Mirah. Aku percaya bahwa
pada suatu saat, kau akan melihat padepokanku.”
Sekar Mirah mencoba untuk tersenyum betapapun kecutnya. Dimuka regol mereka pun
meloncat turun dan menuntun kudanya memasuki halaman. Di belakang regol Kiai
Gringsing menyambut mereka sambil tertawa, “Selamat datang di padepokan kecil
ini.”
Mereka pun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada para pengawalnya yang
kemudian mengikatnya pada pohon-pohon perdu dihalaman.
“Ternyata di halaman itu perlu beberapa patok untuk mengikat kendali kuda,”
berkata Glagah Putih didalam hatinya. Dan ia pun sudah merencanakan untuk
menyiapkan beberapa potong bambu untuk membuat patok penambat kendali kuda.
Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di pendapa. Sejenak mereka saling
mengucapkan selamat sebelum mereka kemudian mulai membicarakan tentang
padepokan yang baru itu.
Dalam pada itu, di belakang Glagah Putih telah sibuk merebus air untuk
menyediakan hidangan bagi tamu-tamunya.
Dipendapa, pembicaraan Sekar Mirah mulai merambat pada padepokan kecil yang
baru selesai dibangun itu. Beberapa kali ia mengeluh, bahwa kerja semacam ini
tidak akan banyak mempunyai arti, selain membuang-buang waktu saja.
“Betapa kecilnya padepokan ini, tetapi untuk membangun rumah dan dinding batu
itu tentu diperlukan beaya,” berkata Sekar Mirah.
“Ya, tentu.” jawab Agung Sedayu, “paman Widura dan kakang Untara telah
menyediakan bagiku.”
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga berati bahwa
kau tidak berdiri atas hasil kerjamu sendiri? Bukankah dengan demikian berarti
bahwa kau juga memerlukan pertolongan orang lain ?”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab. Ki Sumangkar
telah mendahului, “Tetapi itu adalah haknya Sekar Mirah. Ki Widura adalah
pamannya, sedang Untara adalah kakaknya Agung Sedayu berhak menerima apapun
dari mereka. Agak berbeda dengan pemberian orang lain, meskipun dengan ikhlas.
Apalagi tanah ini memang tanah Agung Sedayu sendiri.”
Sekar Mirah memandang gurunya sekilas. Jika saja bukan Ki Sumangkar, maka ia
masih akan membantah. Tetapi terhadap gurunya, Sekar Mirah merasa segan untuk
berbantah.
Sejenak kemudian, setelah mereka minum minuman panas yang dihidangkan oleh
Glagah Putih, mereka pun memerlukan mengitari padepokan kecil itu untuk
melihat-lihat apakah yang sudah dapat dibangun dalam waktu yang terhitung
singkat itu.
Tetapi tidak ada satu pun yang memberikan kepuasan bagi Sekar Mirah. Semuanya
serba kurang dan mengecewakan.
Namun agaknya Agung Sedayu sudah mengenal sifat dan watak Sekar Mirah, sehingga
ia pun dapat mengerti apakah sebenarnya yang terkandung didalam hatinya.
Karena itulah maka Agung Sedayu dan apalagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak
menangkis celaan-celaan itu. Bahkan Agung Sedayu mencoba untuk
mengangguk-angguk sambil menjawab, “Semuanya masih mungkin diperbaiki Sekar
Mirah. Padepokan mi memang belum mapan.”
Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sejenak. Katanya kemudian, “Memang masih
mungkin diperbaiki. Tetapi ada sesuatu yang memang sudah tidak mungkin
ditingkatkan. Yang sudah sampai pada tataran puncaknya. Itulah yang harus
mendapat perhatian. Tanah yang kering, tandus dan berbatu-batu. Tidak akan
dapat menjadi subur dalam waktu yang singkat. Keterasingan dan tersisih seperti
padepokan inipun memerlukan waktu yang lama sekali untuk mendapatkan arti bagi
kehidupan luas. Kecuali sekedar bagi satu dua orang yang langsung
berkepentingan.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan memberikan
keterangan yang lebih panjang, Kiai Gringsing menggamitnya, sehingga Agung
Sedayu pun terdiam karenanya.
Baru kemudian Kiai Gringsing berbisik, “Tidak ada gunanya. Kau hanya akan
berbantah.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dan ia memang tidak ingin berbantah dengan
Sekar Mirah. Karena itulah maka ia pun hanya sekedar mendengarkan, dan
sekali-sekali mengiakannya.
Ki Sumangkar menjadi gelisah justru karena sikap Agung Sedayu. Tetapi ia sadar,
bahwa memang Agung Sedayu bukannya seseorang yang senang membantah, meskipun
Sumangkar tahu, bahwa ada sesuatu yang terasa bergejolak didalam hati anak muda
itu.
“Seperti endapan yang semakin lama semakin tebal didasar hati Agung Sedayu,”
berkata Ki Sumangkar didalam hatinya, “mungkin endapan itu akan tetap tertimbun
baik-baik, tetapi apabila timbunan itu menjadi banyak, maka akan mungkin sekali
menjadi penuh dan meluap seperti air yang tertahan dibendungan.”
Tetapi Ki Sumangkar pun tidak mengatakan sesuatu. Ia justru ingin mencoba
mengubah sikap dan tingkah laku Sekar Mirah apabila masih mungkin, khusus
menghadapi Agung Sedayu, karena agaknya keduanya memang telah berniat menuju
kedalam satu ikatan hidup meskipun perbedaan sifat dan watak semakin lama
justru menjadi semakin jelas.
Meskipun demikian, rasanya masih ada yang mengikat keduanya untuk tetap berdiri
ditempat masing-masing dalam hubungan antara seorang anak muda dan seorang
gadis.
Demikianlah ternyata Sekar Mirah tidak betah terlalu lama tinggal di padepokan
itu. Ia benar-benar tidak menemukan apapun juga yang dapat memberinya kepuasan,
apalagi kebanggaan.
Meskipun demikian Sekar Mirah masih dapat menahan hati untuk menunggu sampai
Glagah Putih menghidangkan makan dan lauk pauk sejauh dapat dilakukan.
“Ia adalah putera paman Widura,” berkata Agung Sedayu kepada tamu-tamunya.
“Paman Widura?” Sekar Mirah menjadi heran.
“Ya, kenapa?”
Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar tidak mengerti, cara hidup
yang ditempuh oleh keluarga Agung Sedayu. Widura adalah seorang perwira yang
termasuk berpengaruh di Pajang meskipun ia sudah meletakkan jabatan
keprajuritannya. Ia mampu membantu Agung Sedayu membuat padepokan itu. Tetapi
kemudian anaknya dibiarkannya berada di padepokan itu sebagai seorang cantrik
kecil yang paling rendah tingkatnya. Ia harus merebus air, menanak nasi dan
menghidangkan jamuan untuk tamu padepokan itu.
“Cara yang paling aneh,” gumamnya, “agaknya keluarga Agung Sedayu memang
mempunyai kebiasaan hidup dalam kesulitan.”
Berbeda dengan Sekar Mirah. Ki Sumangkar justru menjadi kagum melihat kesediaan
Glagah Putih untuk semakin melakukan pekerjaan itu. Bahkan didalam hati Ki
Sumangkar berkata, “Dengan cara itu, mereka akan menjadi orang-orang besar yang
tidak akan terpisah dari rakyatnya, karena mereka mengalami kehidupan yang
pahit dimasa mudanya. Tetapi mereka dengan tekun mempersiapkan diri untuk
menjadi seorang pemimpin yang baik.”
Selelah beristirahat sejenak, maka Sekar Mirah pun kemudian minta diri kepada
Agung Sedayu dengan kesan yang buram atas pedepokan yang kecil itu.
Agung Sedayu tidak dapat menahan Sekar Mirah untuk lebih lama lagi di padepokan
itu. Ia dapat mengerti, perasaan apakah yang sedang bergejolak didalam hatinya.
Karena itu, maka Agung Sedayu pun hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan
berpesan untuk Sekar Mirah berhati-hati di perjalanan.
“Aku bersama guru,” berkata Sekar Mirah, “tidak ada yang dapat menahan kami di
perjalanan.”
Ki Sumangkar hanya dapat menarik napas dalam dalam. Tetapi ia tidak berkata
apapun tentang perjalanan itu. Bahkan ia pun kemudian segera minta diri pula.
Sekar Mirah mengerutkan keningnya ketika ia melihat gurunya berbicara
perlahan-lahan dengan Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang lebih banyak melihat
perkembangan keadaan daripada ikut mencampuri persoalan mereka. Bahkan Ki
Waskita sejenak seolah-olah menjadi orang asing yang tidak banyak bekepentingan
dengan kehadiran Sekar Mirah dan gurunya.
Sejenak kemudian maka Sekar Mirah, gurunya dan pengawalnya meninggalkan
padepokan kecil yang lengang itu. Sekali Sekar Mirah masih berpaling untuk
mencoba melihat padepokan itu dari kejauhan. Benar-benar sebuah padepokan kecil
yang tidak berarti apa-apa.
Di padepokan itu, Agung Sedayu melangkah menuju ke pendapa sambil menundukkan
kepalanya. Ia merasa bahwa Sekar Mirah sama sekali tidak sependapat, bahwa ia
akan tetap tinggal di padepokan itu, karena sifat dan wataknya Sekar Mirah
lebih senang tinggal di Kademangan yang besar dan dikelilingi oleh pelayan dan
kawan-kawan yang menghormatinya. Setiap keinginannya seakan-akan dapat dipenuhi
tanpa melakukan kerja yang berat. Jika sekali-kali bekerja didapur atau di
halamanan, bahkan juga disawah, itu adalah karena ia ingin. Bukan karena
terpaksa melakukannya.
“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian kepada muridnya, “kau tentu
sedang menghadapi salah satu ujian didalam penempaan kepribadianmu. Kita semua
tahu, bahwa Sekar Mirah tidak tertarik sama sekali dengan padepokanmu. Tetapi
hal ini tentu sudah kau mengerti, bahwa lebih banyak berbuat, sehingga pada
suatu saat orang lain, termasuk Sekar Mirah mengakui, bahwa kau telah melakukan
sesuatu.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang Ki Waskita
yang lebih banyak diam. Namun ia tidak menemukan kesan apapun juga didalam
wajah orang itu.
Tetapi dalam pada itu, tatapan Agung Sedayu yang sekilas itu melontarkan
isyarat kepada Ki Waskita. Isyarat seperti yang dilihatnya pada Swandaru.
Agaknya setelah masa perkawinannya dengan Sekar Mirah, Agung Sedayu pun masih
harus menempuh jalan yang sulit dan berbatu-batu tajam.
“Kenapa harus terjadi seperti itu, justru yang tidak dikehendaki oleh semua
pihak? “ pertanyaan itu selalu membelit dihati Ki Waskita. Namun ia masih
berusaha untuk menyembunyikan perasaannya itu. Agar tidak menambah bahan
perasaan Agung Sedayu. Gurunya dan mungkin juga Widura dan Untara. Meskipun
agaknya Untara tentu mempunyai tanggapan yang berbeda. Bagi Untara, kerja
keras, tekad dan ketekunan adalah unsur-unsur yang ikut serta menentukan masa
depan seseorang. Bagi Untara, maka jika Sekar Mirah dapat menjadi penghambat,
maka ia tentu akan menganjurkan untuk melepaskannya.
Ki Waskita hanya dapat manarik nafas. Ia melihat perbedaan sikap yang jauh
antara kedua kakak beradik itu.
Glagah Putih yang tidak tahu persoalan tentang hubungan antara Agung Sedayu dan
Sekar Mirah, sama sekali tidak melihat gejolak perasaan yang bagaikan
mengguncang dada Agung Sedayu. Itulah sebabnya, maka ketika ia menjumpai Agung
Sedayu disamping pendapa ia bertanya. “Apakah hidanganku cukup pantas?”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menepuk bau Glagah Putih
sambil tersenyum. Katanya, “cukup. Terlalu cukup.”
“Kakang tentu sekedar memuji.”
“Tidak. Kau memang pandai memasak.”
Glagah Putih tidak bertanya lagi. Ia pun kemudian mengambil sisa hidangan dan
membawanya kebelakang.
Kunjungan Sekar Mirah, rasa-rasanya telah melecut Agung Sedayu untuk bekerja
keras. Bukan saja ditanah pekerangannya yang baru, selelah ia membuka hutan,
tetapi juga dalam bidang yang lain.
Dimalam-malam yang sepi, ia mulai melihat-lihat tata gerak yang dikuasai oleh
Glagah Putih bersama guru-nya dan Ki Waskita. Seperti yang dikatakan oleh Kiai
Gringsing, Ki Sadewa memang tidak berusaha untuk menunjukkan kekhususan yang
menarik perhatian, seolah-olah dengan sombong mengatakan, “Inilah Ilmuku yang
tidak ada duanya.”
Tata gerak yang dilihat pada gerak-gerak dasar ilmu itu cukup sederhana. Namun
sekali dan kadang-kadang kurang menyakinkan.
“Sulit untuk menangkap ciri-cirinya. Hampir tidak dapat disebut bahwa ilmu ini
adalah ilmu khusus dari perguruan Ki Sadewa,” berkata Agung Sedayu didalam
hatinya.
Tetapi belum mengatakannya. Yang dilihatnya adalah tata gerak dasar yang sangat
dangkal yang dikuasai oleh Glagah Putih.
“Mungkin kita memerlukan pertolongan Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing.
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang demikianlah ajaran ilmu
itu. Pada tingkat pertama, yang diajarkannya adalah ilmu yang sangat umum
seperti yang dikuasai oleh Glagah Putih. Tetapi mungkin pada tingkat berikutnya
ada ciri-ciri khusus yang dapat disadap.
“Tentu ada ciri-ciri khusus itu. Aku melihat ciri-ciri itu pada Ki Widura dan
anakmas Untara,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi terlalu samar dan mungkin
justru sengaja disamarkan.”
Keduanya mengangguk-angguk. Dan mereka pun bersepakat untuk melakukan
penelitian berikutnya bersama Ki Widura untuk menemukan kembali ilmu yang sudah
menjadi sangat menurun kemampuannya itu.
Tetapi persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Jati Anom agak berbeda dengan
orang-orang yang sedang membuka hutan di Mataram. Alas Mentaok yang lebat dan
garang itu dapat dibuka oleh setiap orang yang ingin menggabungkan diri kedalam
lingkungan kehidupan Mataram. Mereka dapat membuka hutan dibagian manapun yang
mereka pilih. Baru kemudian mereka menyatakan diri dan menyusun lingkungan
masyarakat dalam hubungan yang utuh bersama lingkungan-lingkungan kecil yang
lain.
Sedangkan di Jati Anom, hutan yang tersisa merupakan hutan yang seolah-olah
tetap dipelihara karena berbagai macam kepentingan. Meskipun kadang-kadang
hutan itu mendatangkan bahaya karena binatang buas yang tersembunyi didalamnya.
Namun hutan itu juga memberikan banyak kegunaan. Kadang-kadang Kademangan Jati
Anom memerlukan kayu yang cukup banyak untuk membangun beberapa buah rumah,
atau memerlukan hasil hutan yang lain. Tetapi hutan di lereng Gunung Merapi itu
agaknya memang masih akan diperlukan untuk waktu yang lama. Bahkan Kademangan
yang terletak lebih tinggi lagi dari Jati Anom masih melindungi hutan yang
lebat dan pepat seperti alas Mentaok dalam hubungannya dengan penyimpanan air
dan menahan runtuhnya tanah dan banjir.
Karena itulah, maka pembukaan hutan di Jati Anom hanya dapat dilakukan dengan
terbatas sekali.
Meskipun demikian, Ki Demang di Jati Anom masih memberikan kesempatan bagi
beberapa orang yang dengan sunguh-sungguh ingin membuka hutan dan bekerja
bersama dengan Agung Sedayu.
“Tetapi kalian harus bersungguh-sunguh,” berkata Ki Demang, “kalian tidak boleh
sekedar ingin setelah melihat tanah persawahan yang telah berhasil dibuka oleh
Agung Sedayu meskipun tidak begitu luas.”
“Kami bersungguh sungguh Ki Demang.”
“Tetapi kalian harus bekerja dibawah bimbingan Agung Sedayu, karena membuka
tanah baru bukannya sekedar menebang pohon-pohon liar dan membuat pematang di
seputarnya. Membuka tanah baru harus diperhitungkan apakah kemungkinan
mendapatkan air selain air hujan. Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin masih
harus dipertimbangkan.”
“Kami akan berada dibawah petunjuk-petunjuknya.”
“Hubungilah Agung Sedayu. Kau boleh menyampaikan kepadanya, bahwa aku telah
mengijinkan. Tetapi terbatas sekali. Hanya kalian yang menyatakan keinginannya
sampai hari ini. Beritahukan kapada orang- orang lain yang ingin ikut serta,
bahwa aku tidak akan mengijinkan orang-orang baru untuk ikut pula. Tanah
persawahan di Jati Anom aku anggap sudah cukup sampai sekarang. Sedang hutan
itu masih sangat kita perlukan.”
Tetapi yang sedikit itu telah menggembirakan hati Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia
mendapatkan kawan yang mulai memperjuangkan hari depan mereka meskipun hanya
dalam lingkungan kecil. Apalagi ketika pada beberapa anak muda diantara mereka
yang ikut membuka hutan itu menyatakan keinginan mereka untuk tinggal di
padepokan kecil yang masih sunyi itu.
“Belum sekarang,” jawab Agung Sedayu, “pada saatnya, jika padepokan itu telah
siap benar, kalian dapat tinggal bersama kami. Sekarang, kami sedang bekerja
keras untuk mempersiapkannya.”
“Kami akan membantu,” berkata salah seorang dari mereka.
Agung Sedayu selalu saja tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Pada saatnya
saja nanti aku akan memanggilmu.”
Namu dalam saat itu. Agung Sedayu sedang mempersiapkan sebuah rencana yang
cukup rumit bersama gurunya dan Ki Waskita untuk mengetahui dasar-dasar ilmu
yang mulai kabur. Satu satunya orang yang akan dapat memberikan banyak bahan
adalah Widura sendiri, karena Untara yang sibuk dengan tugasnya tentu tidak
akan sempat melakukannya meskipun ilmu itu terdapat lebih lengkap padanya
daripada pada Widura.
Untuk kepentingan itu. Agung Sedayu telah menyiapkan sebuah ruang khusus yang
akan menjadi sanggar dalam penelaahan ilmu kanuragan. Terutama dalam hubungan
dengan ilmu yang masih sangat tipis pada Glagah Putih.
“Kita akan mempergunakan sebagian dari waktu kita untuk berada di dalam
sanggar,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.
“Apa salahnya? Aku sudah terbiasa berlatih dalam waktu yang tidak terbatas.
Hampir setiap saat kakek memberi kesempatan kepadaku untuk meningkatkan ilmu,”
berkata Glagah Putih.
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mengerti, bahwa
tuntutan yang diberikan kepada Glagah Putihpun kurang memenuhi syarat dan
urutan yang tersusun. Seakan-akan dasar ilmu itu diberikan kapan saja dan
bagaimana saja yang sedang teringat oleh kakeknya.
Setelah semua persiapan selesai, maka Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki
Waskita benar-benar mulai dengan penyelidikannya. Mereka dengan
bersungguh-sungguh telah mempersiapkan semuanya yang mungkin diperlukan. Rontal
dengan penggoresnya siap pula untuk menangkap tata gerak yang menarik perhatian
mereka.
Widura yang pada saat-saat tertentu datang kepadepokan itu dan menyetujui semua
rencana itu pun telah dipersiapkan diri pula. Bahkan ketika rencana itu siap
untuk dimulai, Widura menyerahkan beberapa helai rontal kepada Kiai Gringsing.
“Apakah isinya?” bertanya Kiai Gringsing. “Cobalah lihat Kiai. Mungkin akan
berguna untuk melihat tata gerak dasar dari ilmu yang sedang menyusut ini.”
Kiai Gringsing mulai membuka rontal itu. Ia melihat susunan tata gerak dari
limu yang sedang mereka tekuni. Meskipun kurang tersusun, namun nampaknya
gambar-gambar yang tergores pada rontal itu menunjukkan usaha untuk
meningkatkan ilmu yang ada pada orang yang melukiskannya diatas rontal yang
masih tersimpan baik itu.
“Rontal ini masih terhitung baru,” berkata Kiai Gringsing, “aku kira tentu
bukan peninggalan Ki Sadewa.”
Ki Widura menggelengkan kepalanya. Katanya, “Perlihatkan kepada Agung Sedayu,
apakah ia dapat mengenalnya?”
Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun rontal itu pun kemudian
diserahkannya kepada Agung Sedayu.
Wajah Agung Sedayu menegang sejanak. Ia mencoba mengingat-ingat, dimanakah ia
mengenal rontal itu. Rontal yang dilukisi oleh tata gerak yang mungkin dan
bahkan yang sangat sulit dilakukan meskipun pada dasarnya ilmu itu adalah ilmu
yang termurun sampai kepada Ki Widura dan Untara.
Dalam ketegangan itu, Agung Sedayu melihat Ki Widura tersenyum. Bahkan kemudian
katanya, “Kau tentu ingat. Darimanakah aku mendapatkannya.”
Tiba-tiba saja wajah Agung Sedayu menjadi merah sesaat. Ia pun kemudian
teringat, bahwa ketika ia berada di Sangkal Putung, dalam cengkaman tata
hidupnya yang lama, ia telah mencoba untuk memahami ilmu kanuragan. Tetapi ia
tidak dapat melakukannya sesuai dengan keinginannya karena keadaan yang
membatasinya saat itu. Karena itulah ia telah mempergunakan cara tersendiri. Ia
mulai mengkhayalkan tata gerak yang dituangkannya dalam goresan-goresan diatas
rontal.
Sambil mengangguk-angguk kecil Agung Sedayu berkata, “Aku ingat paman.”
Widura tertawa. Katanya, “Kau tentu ingat, karena kaulah yang membuatnya. Kau
yang waktu itu masih dikungkung oleh perasaan takut dan tanpa kepercayaan
kepada diri sendiri, telah menuangkan khayal tata gerak dari perkembangan
ilmumu pada rontal itu. Karena kemungkinan untuk berlatih waktu itu memang
sangat sempit, maka kau pergunakan sebagian waktumu untuk berlatih didalam
angan-angan. Dan agaknya kau telah berhasil. Ilmumu berkembang seperti yang kau
khayalkan meskipun tidak tepat benar, karena ada unsur-unsur gerak yang tidak
mungkin dilakukan dalam kenyataan gerak, tetapi dapat kau bayangkan didalam
angan-angan.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia ingin memberikan beberapa
penjelasan, tetapi Ki Widura sudah mendahuluinya, “Tetapi pada suatu saat kau
menjadi murid Kiai Gringsing yang memiliki ilmu dasar yang berbeda, meskipun
agaknya beberapa bagian dapat kau trapkan setelah kau menguasai gerak dasar
dari ilmumu yang sekarang.”
Kiai Gringsing tersenyum sambil memandang rontal ditangan Agung Sedayu itu.
Katanya, “Kau memang cerdas. Memang lapangan untuk berlatih bukannya selalu
halaman yang sunyi, atau sanggar yang luas. Tetapi angan-anganmu jauh lebih
luas dari tlatah Pajang. Perhitungan dan pertimbanganmu dalam latihan khusus
ini pasti jauh lebih masak daripada kau langsung dihadapkan pada tata gerak.”
“Karena itu, maka latihan-latihan seperti yang kau lakukan disamping
latihan-latihan yang sebenarnya adalah sangat berguna.”
Agung Sedayu kemudian tesenyum pula. Katanya, “Darimana paman mendapatkannya?”
“Aku mendapatkannya di Sangkal Putung. Selagi kau menjadi gemetar setiap kali
Sidanti menantangmu, maka kau dengan rajin membuat lukisan-lukisan seperti
ini.”
Agung Sedayu menundukkan kepalanya.
Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian tertawa. Terbayang didalam
angan-angan mereka, seorang anak muda yang selalu ketakutan menghadapi kedaan
di sekitarnya yang saat itu justru sedang dibakar oleh api perselisihan antara
sanak kadang di Pajang dan Jipang.
“Tetapi semuanya itu kini tiggal kenangan,” berkata Ki Waskita, “meskipun aku
tidak melihat bagaimana pucatnya wajah anakmas Agung Sedayu, namun aku dapat
membayangkan, bahwa semuanya itu menjadi gambaran perkembangan jasmani dan
jiwanya angger Agung Sedayu.”
“Ya,” sahut Widura, “tetapi bekas-bekasnya tentu tidak akan lenyap sama
sekali.”
Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Dibiarkannya orang-orang itu menilai
tentang dirinya. Dan ia pun tidak ingkar, bahwa sifat-sifat yang dimilikinya di
masa kanak-kanak itu masih tetap membekas dihatinya, meskipun didalam
pertumbuhannya mengalami perubahan-perubahan yang penting.
“Nah,” berkata Ki Widura kemudian, “maksudku dengan rontal itu adalah merupakan
salah satu bahan dari usaha kita untuk mencari bentuk dan ciri-ciri dari ilmu
yang sudah semakin susut itu. Aku dan Untara adalah prajurit. Dalam pada itu,
tentu banyak unsur-unsur gerak yang langsung atau tidak langsung telah terbiasa
dalam ilmu yang kini aku miliki, karena tempaan yang aku alami setelah aku
menjadi prajurit. Didalam lingkungan keprajuritan, telah tersusun ilmu-ilmu
pokok yang harus dikuasai oleh setiap prajurit, meskipun masing-masing telah
memiliki bekalnya sendiri.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata bahwa lukisan-lukisan didalam rontal
itu akan sangat berarti meskipun lukisan-lukisannya bukanya lukisan yang baik.
Pada hari-hari berikutnya maka padepokan kecil itu mulai dengan kerja yang
memerlukan ketekunan. Selain memelihara padepokan itu sendiri, menggarap sawah
dan pategalan bagi persediaan makan mereka, maka mereka pun mulai memasuki
sanggar dengan sungguh-sungguh.
Yang akan menjadi bahan pengamatan mereka adalah Glagah Putih dan Ki Widura
sendiri disamping rontal yang berisi goresan-goresan tangan Agung Sedayu.
Pada hari-hari pertama, beberapa kali Glagah Putih harus mengulangi
latihan-latihan yang pernah didapatkannya dari kakeknya. Unsur-unsur gerak yang
sederhana yang justru merupakan dasar dari ilmunya. Kemudian beberapa unsur
yang lain sudah merupakan perkembangan meskipun sama sekali masih kosong.
Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita memperhatikannya dengan saksama.
Setiap kali mereka menghentikan latihan itu, dan minta agar Glagah Putih
mengulanginya.
“Kau tidak perlu mengerahkan tenaga,” berkata Kiai Gringsing, “lakukanlah unsur
geraknya saja. Aku hanya ingin melihat bentuk dan sikap. Bukan kekuatannya.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia sudah mulai lelah. Jika ia
harus mengulangi beberapa kali dengan segenap tenaganya, maka ia akan
kelelahan.
Tetapi Glagah Putih pun kemudian tidak perlu mengulang lebih banyak lagi. Agung
Sedayu kemudian berdiri dan melakukan tata gerak seperti yang dilakukan oleh
Glagah Putih.
“Kau masih dapat melakukannya Agung Sedayu,” berkata Ki Widura, “tetapi tata
gerak yang kau perlihatkan sudah mempunyai isi yang berbeda, karena nafas ilmu
yang kau dapatkan dari Kiai Gringsing masih tetap menjiwainya,” berkata Ki
Widura.
“Kosongkanlah dirimu,” berkata Kiai Gringsing, “Ki Widura benar. Sehingga sulit
untuk mengurai batasnya karena kau memang memiliki keduanya. Jika kau
mengosongkan diri, maka yang kau lakukan hanyalah menirukan. Jika yang kau
lakukan bergetar pula didalam dirimu, lakukanlah terus.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya gurunya dan Ki
Widura berganti-ganti. Kemudian Katanya, “Baiklah guru. Aku akan mencoba
mengosongkan diri meskipun aku sadar, bahwa pekerjaan itu bukannya pekerjaan
yang mudah.”
Kiai Gringsing mengangguk. Lalu, “Mulailah. Seperti Glagah Putih. Yang ingin
kami ketahui adalah tata gerak dan bentuknya, bukan kekuatannya. Karena itu,
kau tidak perlu melepaskan tenaga sedikitpun juga, selain bagi gerak itu
sendiri.”
Agung Sedayu mengangguk. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun
memusatkan nalar dan perasaannya pada dirinya, pada ujud wadagnya, sehingga
yang ada padanya kemudian hanyalah tulang dan daging yang kosong terlepas dari
penguasaan gerak naluriah, dan sepenuhnya diserahkan kepada bayangan yang
tersisa dalam dirinya pada pengamatannya atas tata gerak yang dilakukan oleh
Glagah Putih.
Sebelumnya Agung Sedayu belum pernah melakukannya. Itulah sebabnya ia mengalami
beberapa kesulitan. Setiap kali bayangan itu menjadi jelas setelah mengalami
pemisahan dari bagian-bagian yang tidak dikehendaki. Namun setiap kali, unsur
gerak naluriahnya seolah-olah telah mengaburkannya kembali. Sangat sulit
baginya untuk mengendapkan ilmu yang telah dikuasainya sampai pada batas
penguasaan urat dan syarafnya sehingga terlepas dari unsur-unsur yang menyentuh
simpul-simpul penggerak, sehingga seakan-akan hilang dari perbendaharaan
batinnya.
Namun dengan tekun Agung Sedayu berusaha. Jika ia berhasil, maka itu justru
merupakan suatu hal yang baru baginya, yang akan merupakan suatu kemajuan atas
kekuasaannya terhadap dirinya sendiri, yang wadag maupun yang halus.
Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura justru menjadi tegang.
Mereka melihat betapa wajah Agung Sedayu menjadi pucat dan berkeringat. Namun
Kiai Gringsing telah membiarkannya. Justru kesempatan itu merupakan kesempatan
yang sangat berarti bagi Agung Sedayu. Ilmu yang ada pada Glagah Putih sekedar
merupakan pendorong dan peraga dalam usaha pengosongan diri dan menyatukan daya
pikirnya pada bayangan yang dikehendakinya, yang tersisa dalam dirinya.
Glagah Putih yang ada didalam sanggar itu pula menjadi heran. Ia sama sekali
tidak mengerti, apakah yang sedang dikerjakan oleh Agung Sedayu. Bahkan ia
menjadi heran, bahwa Agung Sedayu mengalami kesulitan untuk menirukan tata
geraknya yang menurut ayahnya, barulah tata gerak dasar yang sederhana.
Dalam puncak pencapaiannya, wajah Agung Sedayu benar-benar menjadi pucat.
Ternyata ia berhasil menyingkirkan semua simpanan didalam dirinya kesudut
sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya, yang dikuasai oleh kehendak,
sehingga seolah-olah ia tidak pernah memilikinya dan sama sekali tidak
mempengaruhinya lagi.
Mulai saat itulah, yang nampak pada penglihatannya mata hati Agung Sedayu
adalah bayangan tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih. Seolah-olah sekali
lagi Glagah Putih melakukan dasar tata gerak ilmunya yang masih sangat
sederhana itu.
Dari unsur gerak yang sama Agung Sedayu mengikuti penglihatan mata hatinya, dan
melakukan tata gerak berikutnya, tepat seperti yang pernah dilihatnya.
Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Widura menarik nafas dalam-dalam. Mereka
melihat keberhasilan Agung Sedayu. Bahkan kemudian Ki Waskita berkata, “Ia akan
memiliki ingatan yang tajam sekali dengan keberhasilannya itu. Jika ia
selanjutnya melatih diri dan menyempurnakannya, maka itu akan sangat berguna
baginya. Ia akan mengenal segala ilmu yang pernah dilihatnya dan
mempelajarinya, sehingga akhirnya ilmu Agung Sedayu akan menjadi ilmu yang
paling lengkap.”
“Tentu belum sejauh itu,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi bahwa yang dicapainya
itu akan sangat berguna, agaknya memang demikian.”
“Tetapi, tentu Agung Sedayu tidak akan dapat melakukannya, sebelum ia
mendapatkan inti dari kemampuannya itu,” berkata Ki Waskita. Lalu, “Apakah Kiai
juga pernah memberikan inti dasar dari ilmu itu kepada Swandaru?”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil memperhatikan tata gerak Agung
Sedayu yang sederhana dan merupakan unsur-unsur gerak dasar itu, ia menjawab,
“Jika Swandaru memiliki ketajaman batin seperti Agung Sedayu, maka ia pun tentu
dapat melakukannya. Tetapi aku tidak tahu, apakah ia berhasil mengurai semua
bahan yang ada padanya, untuk menemukan hubungannya sehingga terbentuklah suatu
ujud.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai sangat bijaksana.”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Diperhatikannya tata gerak Agung Sedayu yang
melakukan tata gerak dasar itu berulang kali tanpa dipengaruhi oleh ilmu yang
telah dimilikinya. Sama sekali bersih.
Perlahan-lahan tetapi meyakinkan, maka orang-orang yang memperhatikan tata
gerak Agung Sedayu itu melihat kebiasaan yang nampak pada tata gerak dasar.
Baru kebiasaan. Dan kebiasaan itu mungkin memang terdapat pada tata gerak itu
sendiri, atau lahir setelah ilmu itu menurun. Baik pada kakek Glagah Putih atau
pada Glagah Putih sendiri, sehingga kebiasaan itu belum dapat dijadikan ciri
bagi ilmu itu.
“Setelah aku melihat, bagaimanakah tata gerak dasar Ki Widura, maka barulah
akan mendapat perbandingan dibantu oleh gambar yang telah dibuat oleh Agung
Sedayu tentang tata gerak yang sudah disempurnakan baru didalam angan-angan,”
berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.
Sebenarnya, bahwa dengan mengulang-ulang tata gerak dasar itu. banyak yang
dapat dicapai oleh Agung Sedayu bagi dirinya sendiri dan bagi ilmu itu. Ia
sudah dapat memberikan gambaran yang berulangkali dengan gerak yang tepat sama
dan unsur-unsur dasar. Sepuluh kali ia mengulang, maka sepuluh kali pula setiap
bagian dari gerak itu diulang.
Ketika Kiai Gringsing menganggap sudah cukup, maka ia pun kemudian berkata,
“Sudahlah Agung Sedayu. Untuk kali ini kita sudah cukup.”
Agung Sedayu mendengar suara itu bergetar didalam hatinya. Karena itu maka ia
pun kemudian perlahan-lahan berusaha untuk menyalurkan kehendaknya pada
wadagnya, sehingga akhirnya, ia pun berhenti.
Namun demikian ia berhenti, dan melepaskan diri dari ketegangan saat-saat ia
mengosongkan diri, terasa tubuhnya bagaikan menjadi gemetar karena getar pada
urat dan syarafnya, seolah-olah menjalar sampai kepusat syarafnya, sehingga
akhirnya seolah-olah yang kosong itu pun telah terisi kembali.
Maka sejenak kemudian. Agung Sedayu itu pun serasa telah pulih kembali menjadi
Agung Sedayu sewajarnya. Karena itulah, maka jika ia masih ingin meneruskan
usahanya mengulangi tata gerak Glagah Putih, maka ia tidak akan dapat
melakukannya tanpa pengaruh ilmunya sendiri.
Di hari itu, Kiai Gringsing rasa-rasanya telah menemukan sesuatu yang baru?
Bukan saja pengenalan atas dasar-dasar pokok ilmu yang sedang mereka pelajari,
tetapi ia menyaksikan, bagaimana Agung Sedayu berusaha mengosongkan dirinya,
dan membuat wadagnya bagaikan terlepas dari segala ilmu yang dimilikinya.
Demikianlah, setelah mereka selesai dengan ungkapan tata gerak itu, mulailah
mereka duduk pada sebuah lingkaran dan sekedar berbincang. Widura yang paling
banyak mengenal ilmunya dari orang-orang lain yang ada mencoba untuk
menjelaskan, apa yang telah mereka saksikan bersama
“Memang belum ada ciri-ciri pokok yang nampak. Tetapi ada sesuatu yang dapat
diingat. Gerak kaki itu terulang sampai beberapa kali pada unsur-unsur dasar
yang berbeda. Langkah yang melintang siku dari garis lurus pandangan mata dan
susunan telapak tangan yang tegak dimuka dada, dapat merupakan pengenalan,”
berkata Widura.
Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Baru merupakan
bentuk-bentuk pada tata gerak. Tetapi belum langsung menyangkut watak. Karena
ciri sebenarnyalah dapat dikenali sebagian terbesar pada watak ilmu itu.”
“Satu hal yang dapat Kiai ingat, meskipun tidak dilakukan oleh Glagah Putih.
Ketajaman bidik itu bukan sekedar bentuk. Tetapi sudah mengandung watak dari
suatu ilmu.” sahut Widura.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Ketajaman bidik memang merupakan
ciri dari ilmu itu. Tetapi sudah barang tentu tidak hanya ciri yang satu itulah
yang kita lihat. Menilik sikap dan tata gerak dasarnya, maka akan ada
kemampuan-kemampuan yang akan nampak dalam tata gerak itu.”
“Aku kira ada watak yang sudah terungkap meskipun hanya permukaannya saja,”
berkata Ki Waskita.
“Pertahanan yang kuat dan rapat. Hampir tidak tertembus oleh ujung jarum.”
potong Kiai Gringsing.
“Ya. Dan itu tentu dapat dihubungkan dengan watak.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Waskita benar. Tetapi watak yang
kita lihat adalah watak yang samar-samar. Ilmu yang banyak dijiwai oleh
unsur-unsur gerak pertahanan yang kuat dan rapat, menunjukkan bahwa ilmu itu
lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada mencelakai orang lain. Aku kira
sesuai benar dengan Ki Sadewa. Tetapi yang akan kita cari adalah watak dalan
keutuhannya. Kekasarannya, kekerasannya, bentuk dan jenis pukulan yang
mematikan, yang sekedar melukai dan sebagai sarana untuk melepaskan diri dari
kesulitan.”
“Kita memerlukan waktu,” berkata Widura, “namun aku sudah mulai membayangkan,
jika kita dapat menemukan sebagian yang hilang, maka dengan bekal yang ada itu
akan tersusunlah kembali ilmu yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh Ki Sadewa.
Lebih dahsyat dari ilmu yang pernah kita kenal pada orang-orang yang sekarang
masih mempergunakannya, karena tidak ada seorang pun yang berhasil
mempelajarinya sampai tuntas setelah Ki Sadewa.”
“Mudah-mudahan kita berhasil. Jika tidak seluruhnya, maka jika kita mencapai
sebagian besar, maka nama Ki Sadewa akan tidak terlupakan,” berkata Kiai
Gringsing.
Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Mudah-mudahan demikian.”
DEMIKIANLAH, penyelidikan dengan tekun dan bersungguh-s
ungguh atas ilmu Ki Sadewa itu sudah dimulai. Tetapi mereka semuanya tidak
tergesa-gesa. Mereka tidak membatasi waktu penyelidikannya dengan dua atau tiga
pekan. Tidak pula dua atau tiga bulan. Bahkan mereka tidak akan memaksa untuk
segera menyelesaikannya setelah dua atau tiga tahun.
Karena itulah, maka penyelidikan itu berjalan terus meskipun lambat. Namun
demikian, mareka menyediakan waktu betapapun sempitnya setiap hari untuk
menelaah, membicarakan atau mencari unsur-unsur gerak yang masih harus
diketemukan.
Dengan demikian maka kerja mereka yang lain sama sekali tidak terbengkelai.
Sawah mereka yang mulai menghijau, pategalan dan kebun padepokan mendapat
pemeliharaan yang teliti.
Namun disamping mengenali ilmu yang sudah hampir dilupakan itu, ternyata bahwa
Agung Sedayu juga tidak melupakan dirinya sendiri. Setelah ia berhasil mencoba
mengosongkan dirinya, justru seolah-olah demikian saja harus dilakukan,
meskipun sebenarnya bekalnya memang sudah dipersiapkan oleh gurunya didalam
dirinya, maka ia pun menjadi semakin tertarik kepada ilmunya sendiri. Bahkan
kadang-kadang ia pergi menyendiri didalam sanggar dan menylaraknya dari dalam.
Sekali-sekali ia mencoba untuk melakukannya seperti yang pernah dilakukan.
Mengosongkan diri untuk memberikan kesempatan kepada wadagnya melakukan sesuatu
yang dikehendaki. Bahkan pengenalannya yang sedikit terhadap keadaan
disekitarnya akan dapat terungkapkan kembali dalam gerak.
“Tetapi apakah gunanya? “ tiba-tiba saja ia bertanya kepada diri sendiri, “aku
hanya dapat menirukan. Sedang aku sendiri tidak melihat apa yang aku lakukan.
Dengan demikian aku akan selalu memerlukan orang lain untuk membantuku, jika
aku ingin menguasai ilmu ataupun tata gerak yang pernah aku lihat dari siapapun
juga.”
Namun demikian, Agung Sedayu tidak mengatakan kepada gurunya. Mungkin pada
suatu saat gurunya akan memberikan beberapa petunjuk lain. Jika ia memaksa
bertanya sekarang, maka seolah-olah ia telah mencoba untuk mendahului rencana
yang mungkin telah disusun oleh gurunya.
Meskipun demikian. Agung Sedayu tidak berhenti berlatih. Kadang-kadang sendiri,
kadang-kadang dengan gurunya. Tetapi untuk kepentingan itu, Glagah Putih selain
dipisahkannya dengan alasan apapun juga, agar ia tidak terganggu karenanya.
Jika anak yang masih terlalu muda itu melihat, dan ingin mencobanya, maka
akibatnya akan kurang baik bagi anak muda itu sendiri. Apalagi mereka yang
masih belum cukup mempunyai bekal dalam kedewasaan ilmunya.
Dengan demikian, maka sebenarnyalah padepokan kecil itu sudah menjadi sibuk
dalam kerjanya sendiri, meskipun tidak nampak oleh siapapun karena Agung Sedayu
dan penghuni lainnya selalu nampak sibuk pula di sawah.
Namun demikian, tiba-tiba saja, Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Ia merasa
sesuatu yang mendesaknya, justru karena ia menginginkan sesuatu pencapaian.
Gurunya dan Ki Waskita adalah orang yang bijaksana. Karena itu mereka pun
melihat kegelisahan itu. Meskipun mereka tidak mengetahuinya dengan tepat,
namun mereka dapat menduga, apa yang diinginkan oleh anak muda itu.
Meskipun demikian Kiai Gringsing tidak bertanya. Ia membiarkan Agung Sedayu
sampai pada suatu saat mengatakannya kepadanya. Dan yang ditunggunya itu pun
kemudian ternyata pula.
“Guru,” berkata Agung Sedayu, “keinginanku itu tidak dapat aku tahankan lagi!”
Kiai Gringsing tersenyum. Ia memang menghendaki Agung Sedayu mengatakannya
kepadanya. Jawabnya, “Agung Sedayu. Muridku bukannya kau seorang diri. Aku
sudah menganggap bahwa kau dan Swandaru adalah anak-anakku. sehingga dengan
demikian aku tidak dapat membedakan kalian berdua sama sekali. Juga dalam hal
penyerahan ilmu. Karena itu anakku, kalian berdua yang telah dewasa, dan telah
menerima bahan-bahan yang cukup sebagai bekal, aku persilahkan untuk mencarinya
sendiri. Jika kemudian kalian mengalami perbedaan pertumbuhan, itu bukannya aku
yang tidak adil. Tetapi kalianlah yang menentukan. Apakah kalian berhasil
mengembangkan yang telah kalian capai, atau tidak.”
Agung Sedayu menundukkan kepalanya.
“Karena itulah, maka aku tidak akan dapat
mencegah keinginanmu untuk mencari kesempurnaan dengan bekal yang ada.
Pergilah. Tetapi aku memberikan batasan waktu. Padepokan kecil ini tidak boleh
terbengkelai. Karena itu, yang kau tuntut sebagai suatu cita-cita dan kenyataan
hidupmu sehari-hari harus seimbang. Jika kau akan pergi menyendiri, pergilah.
Tetapi tidak lebih dari satu bulan. Dari saat purnama naik, sampai ke purnama
berikutnya. Biarlah selama itu, aku, Ki Waskita dan Glagah Putih menunggui
padepokan ini. Sementara itu, Glagah Putih juga akan meningkatkan ilmunya,
sesuai dengan dasar-dasar tata gerak yang dikuasainya. Karena aku kira Ki
Widura untuk sementara dapat melakukannya.”
Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih guru. Aku mohon maaf
bahwa akhirnya aku mementingkan diriku sendiri. Tetapi aku tidak akan melupakan
Glagah Putih dan usaha paman Widura untuk mengenal ilmunya lebih dalam.”
“Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Tentang ilmu yang sedang kita kenali itu.
kita tidak akan terikat dan terbatas waktu.”
“Tetapi kasihan dengan Glagah Putih. Sebelum ilmu itu dapat dikenal seluruhnya,
maka yang dapat dicapai adalah sekedar pangkalnya saja. Kecuali jika Glagah
Putih bersedia menerima ilmu yang lain. Namun agaknya paman Widura ingin agar
Glagah Putih menguasai ilmu yang sedang kita cari bentuknya itu secara utuh,
dalam tingkatnya yang tinggi.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya kau benar. Tetapi ia masih
sangat muda. Waktu masih cukup panjang baginya, sehingga menurut gelar
lahiriah, ia masih mempunyai kesempatan meskipun masa persiapannya agak
panjang.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk.
“Agung Sedayu, pergilah. Tetapi sebaiknya kau minta ijin juga kepada kakakmu
Untara. Dalam hal seperti ini kakakmu tentu akan mengijinkanmu.”
“Baik guru. Aku akan menemui kakang Untara segera.”
Keinginan yang mendesak itu telah mengantarkan Agung Sedayu menemui kakaknya.
Seolah-olah ia tengah dikejar oleh waktu yang tidak dapat ditunda lagi.
“Kakang,” berkata Agung Sedayu setelah ia bertemu dengan Untara,
“perkenankanlah aku pergi yang menurut guru diberi batasan waktu satu bulan.
Aku ingin menemukan yang selama ini rasa-rasanya selalu mengganggu dalam tata
gerak ilmuku. Rasa-rasanya ada yang belum tersalur dalam arus tata gerak
didalam setiap saat aku berlatih atau justru dalam penggunaan ilmu yang
sebenarnya.”
Untara tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan tegang
sehingga Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar. Sesaat Agung Sedayu memandang
wajah kakaknya, namun kemudian wajahnya sendirilah yang menunduk dalam-dalam.
“Agung Sedayu,” berkata Untara dengan nada datar, “apakah kau sudah
memikirkannya?”
“Sudah kakang.”
“Bukankah itu berarti bahwa akan meninggalkan padepokanmu? Padepokan yang baru
saja selesai dibangun dan memerlukan pemeliharaan yang tekun, tiba-tiba saja
akan kau tinggalkan untuk waktu yang lama.”
“Guru. Ki Waskita dan Glagah Putih ada disana. Mereka akan memelihara padepokan
itu sebaik-baiknya.”
“Apakah gurumu mengijinkan kau melakukan pengenalan tentang ilmumu sendiri dan
kemudian menyempurnakan? Bukankah itu maksud kepergianmu?”
“Ya kakang. Guru mengijinkan.”
“Dan kau sudah merasa dirimu cukup matang untuk melakukannya?”
Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab, “Aku mohon guruku
untuk memberikan penilaiannya karena aku sendiri tidak akan mampu
melakukannya.”
Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dalam hal ini gurumulah yang lebih
banyak menentukan. Jika gurumu mengijinkan, terserah kepadamu.”
Agung Sedayu menarik nafas. Ternyata kakaknya tidak melarangnya, meskipun
sikapnya masih tetap dingin.
“Baiklah kakang. Aku mohon diri. Mudah-mudahan aku berhasil melakukannya dan
menemukan sesuatu yang berharga, meskipun nilainya yang berharga itu kecil
sekali.”
Untara mengangguk. Jawabnya, “Pergilah. Tetapi tepati batasan waktu yang
diberikan oleh gurumu. Jika gurumu memberimu waktu sebulan itu tentu bukannya
tidak beralasan.”
Agung Sedayu termenung sejenak. Ia mencoba menangkap, bagaimanakah sebenarnya
tanggapan Untara atas rencananya itu. Tetapi Agung Sedayu tidak menemukan
selain sikap yang dingin.
“Berhati-hatilah,” berkata Untara kemudian, “kau masih terlalu kanak-anak.
Bukan saja umurmu, tetapi juga sikap dan pandangan hidupmu, karena selama ini
kau selalu dibawah asuhan gurumu dan mengikutinya kemana ia pergi. Dengan
demikian maka kau sudah terbiasa menyerahkan segala kesulitan kepada gurumu.”
Agung Sedayu mengangguk lemah. Jawabnya, “Aku akan berhati-hati kakang.”
“Mudah-mudahan kau selalu mendapat perlindungan.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia-pun minta diri untuk
kembali kepadepokannya dan seterusnya untuk sebulan ia akan melakukan
rencananya. Sendiri, tanpa gurunya dan tanpa saudara seperguruannya.
“Kakang Untara bersikap dingin,” berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.
“Tetapi bukankah ia tidak melarang?” bertanya Kiai Gringsing.
“Ya. Kakang tidak melarang.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Dalam pada itu. Agung Sedayu pun segera mengadakan persiapan lahir dan batin.
Selain ia berusaha untuk mematangkan ilmunya dibagian-bagian terpenting sebagai
bekal perjalanannya, maka ia pun telah mempersiapkan tekadnya, apapun yang akan
dijumpainya.
Menjelang purnama naik, maka Agung Sedayu pun telah mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Ia membawa beberapa pakaian sebagai bekal dan beberapa genggam
beras, selain senjatanya yang melilit dipinggangnya.
“Ingat,” berkata gurunya ketika Agung Sedayu minta diri untuk berangkat, “beras
itu tidak akan cukup satu bulan jika kau mempergunakannya sebagaimana
sewajarnya. Karena itu kau harus mampu mengatasi kesulitan dengan caramu
sendiri. Bahkan bukan hanya sekedar mengenai beras, tetapi mungkin ada
kesulitan-kesulitan lain yang perlu kau atasi dengan bijaksana. Bukan asal kau
dapat memperlakukannya dengan kekerasan dan ilmu kanuragan.”
Agung Sedayu menyimpan semua pesan. Baik dari gurunya, maupun dari Ki Waskita.
“Jangan lebih dari satu bulan,” berkata Ki Waskita, “karena pada saatnya aku
harus kembali.”
“Ya Kiai. Aku akan memperhitungkan waktu. Mudah-mudahan langit bersih sehingga
aku dapat melihat bulan yang berkembang di langit sampai saatnya purnama yang
akan datang.”
“Kau tidak usah menghiraukan apakah bulan itu nampak di langit atau tidak. Kau
dapat menghitung hari-hari yang berjumlah sekitar tigapuluh.”
Agung Sedayu mengangguk. Sekali lagi ia minta diri kepada Glagah Putih untuk
pergi beberapa saat.
“Kakang aneh. Aku sudah meninggalkan kakek dan tinggal disini, tetapi kakang
malahan pergi untuk waktu yang lama.”
“Kau akan berada dalam asuhan ayahmu dan kedua orang-orang tua itu Glagah
Putih. Dan aku hanya pergi sebentar untuk suatu keperluan. Tidak lebih dari
satu bulan. Aku harap tanaman di halaman depan akan menjadi bertambah subur,
dan pohon-pohon itu akan mulai berbuah.”
“Tetapi jangan lebih dari satu bulan. Jika kakang tidak segera kembali, aku
akan asing disini. Karena kawanku hanyalah orang-orang tua saja meskipun ada
ayah vang selalu datang kemari.”
Demikianlah maka Agung Sedayu pun meninggalkan padepokan kecilnya dengan tekad
yang bulat. Ia ingin mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi pada
dirinya saat-saat ia mengosongkan diri dan melihat bayangan-angan yang
dikehendaki. Ia ingin melihat ilmunya sendiri dari mula sampai akhir. Dan ia
ingin melihat kedirinya sendiri, apakah sebenarnya yang pernah dilakukan dan
apakah yang sebaiknya dilakukan.
Ketika Agung Sedayu meninggalkan padepokannya, ia sama sekali tidak usah
memikirkan, kemana ia harus pergi. Sebenarnyalah ia sudah mempunyai rencana
didalam hatinya. Hanya jika renacananya itu tidak memenuhi keinginannya, maka
ia akan menentukan cara lain.
Dengan langkah yang tetap Agung Sedayu menyusuri jalan sempit menuju kesebuah
hutan kecil. Dibalik hutan itu terdapat sebuah sungai yang curam. Di tebing
sungai itu terdapat sebuah goa yang dalam.
Letak goa itu memang tidak terlalu jauh dari Jati Anom. Pada masa kanak-anak ia
pernah bermain-main ke goa itu bersama kakaknya. Hampir saja ia hilang ditelan
tikungan yang bersimpang siur didalam goa itu, sehingga ia menangis
tersengal-sengal.
“Sekarang aku akan melihat apakah jalan-jalan yang bersimpang siur didalam goa
itu masih membingungkan,” berkata Agung Sedayu.
Perjalanan Agung Sedayu memang bukan perjalanan yang amat jauh. Karena itu,
maka perjalanan itu pun tidak memerlukan waktu yang sangat lama.
Hutan kecil itu pun tidak terlampau lebat, meskipun masih banyak terdapat
berbagai macam binatang.
Bahkan binatang buas. Apalagi hutan itu menjorok sampai ketepi sebuah sungai,
yang merupakan syarat bagi hadirnya berbagai macam binatang, karena
binatang-binatang itu dapat mendapatkan air dengan mudah.
Hutan itu masih sama seperti saat Agung Sedayu sering bermain-main di
sekitarnya, apabila ia mengikuti kakaknya. Meskipun kadang-kadang ia merengek
minta pulang, tetapi sekali dua kali ia pernah sampai ke seberang hutan itu.
Masih teringat olehnya, kakaknya selalu marah-marah kepadanya, sehingga
akhirnya ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk ikut bersama jika kakaknya
bermain-main di hutan itu atau ke goa seberang.
Dalam pada itu, sepeninggal Agung Sedayu, ternyata Untara telah menemui Kiai
Gringsing. Semula Kiai Gringsing menjadi cemas, bahwa Untara menganggap
tindakannya itu salah. Tetapi ternyata Untara berkata, “Kiai, aku senang
melihat perkembangan jiwa Agung Sedayu. Kini ia mencoba untuk mencari dengan
kemampuannya sendiri. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kepribadiannya
menjadi semakin mantap, bukan sekedar menghambakan diri di Sangkal Putung?”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata Untara bukannya sekedar acuh tidak
acuh saja terhadap niat adiknya. Adalah sifat Untara bahwa ia sama sekali tidak
ingin memuji seseorang dihadapan orang itu sendiri. Meskipun ia sebenarnya
merasa bangga akan keputusan Agung Sedayu untuk membentuk dirinya sendiri,
tetapi dihadapan Agung Sedayu, Untara tetap bersikap acuh tidak acuh seperti
yang dikatakan oleh Agung Sedayu.
“Anakmas,” kata Kiai Gringsing, “aku sebenarnya merasa cemas, apakah anakmas
dapat menyetujui keinginan Agung Sedayu untuk pergi mencari sesuatu yang belum
dapat ditentukannya sendiri.”
“Aku tentu setuju. Itu lebih baik dari pada ia menunggu. Dengan kepergiannya
itu, maka ia telah melakukan sesuatu usaha bagi dirinya, bukan sekedar menerima
pemberian. Apakah itu petunjuk apakah itu kesempatan yang manapun juga.”
“Syukurlah. Seperti angger, aku pun melihat, bahwa Agung Sedayu sebenarnya
memiliki pandangan yang hidup terhadap dirinya sendiri dan terhadap ilmunya.
Itulah sebabnya maka ia akan mencari sesuatu yang dianggapnya belum lengkap
pada dirinya. Aku sengaja membiarkannya mencari sendiri, agar seperti yang
anakmas katakan, ia tidak akan sekedar menerima. Selebihnya, aku adalah seorang
guru yang mempunyai lebih dari seorang murid. Aku harus adil terhadap
keduanya.”
Untara mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah yang Kiai
maksud dengan adil ?”
Pertanyaan itu agak aneh bagi Kiai Gringsing. Sejenak ia merenung. Namun ia
kemudian menjawab, “Anakmas. Ilmu seseorang adalah sangat terbatas. Apa yang
aku punyai pun sangat terbatas. Yang terbatas itu dasar-dasarnya telah aku
berikan kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Lengkap dan sama karena memang hanya
itulah yang aku punya. Jika kemudian ada sesuatu yang lebih dari yang lengkap
dan sama itu, maka aku harus memberikan kepada kedua-duanya pula.”
“Kiai,” bertanya Untara, “apakah ada yang lebih dari yang sudah lengkap itu?”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger adalah seorang
Senapati yang memiliki ilmu yang mumpuni. Aku kira angger dapat mengerti apa
yang lebih dari yang lengkap bagi sebuah ilmu itu. Ilmu kanuragan bukannya
sekedar mengenal tata gerak dasar dari yang pertama sampai yang terakhir. Yang
lengkap adalah pengenalan semua unsur tata gerak dan hubungannya yang satu
dengan yang lain. Penguasaan semua kekuatan yang ada pada diri seseorang dan
pengenalan kepada kekuatan-kekuatan cadangan. Baik yang ada didalam dirinya,
maupun yang tersedia didalam alam di sekitarnya. Bukankah begitu? Dan aku sudah
memberikannya semuanya itu kepada Agung Sedayu dan kepada Swandaru.”
Untara mengangguk-angguk. Sebelum ia bertanya. Kiai Gringsing melanjutkannya.
“Tetapi apakah angger Untara puas dengan ilmu yang lengkap itu? Setelah ilmu
itu lengkap, masih ada yang perlu diketahui. Masih banyak sekali. Pengenalan
atas hubungan ilmu satu dengan yang lain dalam pancaran penggunaannya. Angger
seorang prajurit. Tentu angger tidak sekedar memiliki ilmu yang angger terima
secara utuh itu. Tentu ada yang lebih dari ilmu yang pernah angger terima,
karena didalam ilmu angger telah terjadi hubungan yang luluh dan mantap antara
ilmu yang angger terima dari Ki Sadewa dan ilmu yang harus dikuasai setiap
prajurit.”
Untara mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti yang Kiai maksud. Kiai
bermaksud agar Agung Sedayu menyampurnakan ilmunya dalam bentuk apapun diluar
petunjuk Kiai. Karena Kiai merasa bahwa dengan demikian Kiai sudah tidak
bertindak adil terhadap kedua murid Kiai.” ia berhenti sejenak, lalu. “Kiai,
apakah yang disebut adil bagi seorang ibu terhadap kedua anaknya kakak beradik.
Seorang kakak yang berumur sepuluh tahun, apakah harus menerima bagian makan
yang sama dengan anaknya yang baru berumur tiga tahun? Jika Kiai berpegangan
kepada pendapat bahwa yang adil itu adalah yang sama, maka malanglah anak yang
tua, karena ia harus makan segenggam nasi seperti adiknya yang masih bayi.”
Kiai Gringsing tersenyum. Ia senang mendengar Untara yang menyatakan
pendapatnya tanpa disembunyikan. Hatinya sebagai seorang Senapati cukup terbuka
dan mantap sesuai dengan sikap dan pendapatnya.
“Angger benar,” berkata Kiai Gringsing, “sedangkan saat ini, aku masih merasa
mempunyai dua orang anak kembar. Itulah sebabnya aku memperlakukan keduanya
sama. Memang mungkin pada suatu saat aku harus melihat, bahwa pertumbuhan
keduanya mengalami perbedaan. Mungkin aku harus memberi garam kepada yang
seorang dan memberikan gula kepada yang lain. Nah, dalam keadaan yang demikian,
yang adil memang bukannya yang sama. Yang adil bagi kedua anak-anakku itu
adalah memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing sesuai dengan garis
ajaranku lahiriah dan rohaniah.”
Untara memandang Kiai Gringsing sejenak. Dengan kerut merut didahi ia bertanya,
“Jadi menurut Kiai, Agung Sedayu dan Swandaru itu kali ini masih berada dalam
tataran yang sama.”
“Aku berpendapat demikian. Tetapi yang sama itu pun memiliki tingkatannya yang
dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing, kemampuan berpikir dan menanggapi
sesuatu peristiwa dan keadaan.”
“Baiklah Kiai,” berkata Untara, “Kiai ingin bertindak bijaksana, Sayang, bahwa
Agung Sedayu mempunyai hubungan yang dekat dengan aku, karena aku kakaknya.
Jika aku menyatakan pendapatku dengan jujur sesuai dengan kata hatiku, maka
Kiai akan menganggap bahwa aku ingin berbuat sesuatu yang menguntungkan
adikku.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun tersenyum. Untara memang
mengatakan apa saja yang tersirat. Dan ia pun tepah mengatakan bahwa ia
menyembunyikan sesuatu. Dan itu sangat menarik bagi Kiai Gringsing.
“Angger tidak ingin disebut seorang kakak kandung yang ingin mendesakkan
pendapatnya bagi keuntungan adiknya. Karena itu angger tidak mau mengatakan,
bahwa sebenarnya Agung Sedayu memiliki kematangan ilmu yang lebih tinggi dari
Swandaru berdasarkan bahan yang mereka terima dari aku. Begitu? Sehingga ia
pantas menerima bukan hanya segenggam seperti adiknya, tetapi semangkuk.”
Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya
sambil menjawab, “Aku berpendapat demikian. Tetapi pendapat yang menentukan
adalah pendapat Kiai sebagai gurunya, karena Kiai mempunyai hubungan yang lebih
rapat dengan keduanya.”
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Segala sesuatunya akan berjalan sewajarnya.
Mudah-mudahan aku selalu mendapat petunjuk dari Yang Maha Kasih, agar aku dapat
berada diantara murid-muridku dengan bijaksana.”
Untara mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa Kiai Gringsing akan selalu
berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kedua muridnya yang pasti
akan mempunyai beberapa perbedaan.
Setelah memberikan beberapa pesan pula kepada Glagah Putih yang ada di
padepokan kecil itu pula.
“Kiai,” berkata Glagah Putih sepeninggal Untara, “kakang Untara dan kakang
Agung Sedayu adalah saudara sepupuku. Tetapi keduanya berbeda bagiku. Aku lebih
berani menyatakan pendapat dan sikapku kepada kakang Agung Sedayu. Sebenarnya
bahwa aku agak segan terhadap kakang Untara yang nampaknya selalu
bersungguh-sungguh.”
Kiai Gringsing tertawa. Jawabnya, “Pembawaan keduanya memang lain. Tetapi
sebenarnya kau tidak usah segan terhadap kakakmu Untara. Ia orang baik. Tetapi
ia lebih berterus terang dari adiknya, Agung Sedayu. Untara akan mengatakan
tidak senang bagi yang tidak disenangi dan mengatakan baik bagi yang menurut
pendapatnya. Tetapi kakakmu Agung Sedayu mungkin akan mempergunakan
istilah-istilah lain yang lebih rumit, yang kadang-kadang justru tidak
dimengerti oleh orang lain.”
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, Glagah Putih yang berada di padepokan itu justru karena ajakan
Agung Sedayu, merasa sepi juga. Tetapi ternyata bahwa Kiai Gringsing dan Ki
Waskita banyak mengisi waktu Glagah Putih itu dengan kerja disawah atau
memberikan kesempatan kepadanya untuk berlatih diri. Selebihnya, waktunya
dipergunakan oleh Widura untuk memperlengkap tata gerak dasar anak muda itu
sekaligus dalam usaha mereka untuk menelusuri kembali ilmu yang sudah mulai
kabur itu.
Sementara itu. Agung Sedayu sendiri telah berada di mulut sebuah goa di tebing
sungai yang curam di seberang hutan kecil yang membujur sepanjang tepian.
Jarang sekali seseorang memerlukan pergi ke tempat itu, selain mereka yang
sengaja ingin melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya atau anak-anak nakal
yang tersesat atau sengaja ingin mengetahui sesuatu yang pernah didengarnya
sebagai ceritera dari orang lain.
Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Goa itu adalah goa yang mempunyai
dongengnya tersendiri. Beberapa orang pernah mengatakan bahwa goa itu adalah
goa yang terpanjang. Jika seseorang menelusuri goa itu dan menemukan jalan yang
menurut jalur yang benar, maka ia akan sampai ke dasar samodra.
Tetapi belum ada seorang pun yang dapat mengatakan, bahwa ceritera itu memang
benar. Belum ada seorang pun yang memasuki goa itu dan menyelusuri jalan sampai
kedasar samodra.
Untuk beberapa lamanya Agung Sedayu termangu-mangu Bahkan pada hari yang
pertama ia tidak langsung memasuki jantung goa itu. Ia masih berada di mulut
goa sekedar berteduh dari panas terik yang membakar jika matahari ada di puncak
langit.
Ketika malam kemudian tiba, maka goa itu pun menjadi sangat gelap. Dari
tempatnya yang tidak terlalu dalam.
Agung Sedayu dapat melihat, bahwa kegelapan malam diluar goa itu masih jauh
lebih terang dari hitam kelamnya warna setiap sudut didalam goa itu.
MULA-MULA kulit Agung Sedayu memang meremang. Tetapi lambat
laun, karena ia memang sudah dengan sengaja memasuki goa itu, hatinya pun
menjadi tenang.
“Apapun yang akan aku hadapi, aku tidak akan ingkar,” katanya didalam hati.
Namun Agung Sedayu tidak memasuki goa itu lebih dalam lagi di malam hari.
Selain udara yang lembab dan seolah-olah pepat karena kegelapan, maka Agung
Sedayu pun belum mempunyai gambaran sama sekali tentang jalur-jalur jalan
didalam goa itu.
Ketika matahari terbit ditimur, di pagi hari berikutnya. Agung Sedayu melangkah
keluar mulut goa. Sejenak ia memandang langit yang cerah. Namun kemudian ia pun
memasuki goa itu kembali dan mulailah ia mengenali dinding goa itu semakin lama
semakin dalam.
Agung Sedayu memang sedang memerlukan suatu tempat yang terasing, ia ingin
lebih banyak melihat kedalam dirinya sendiri. Jika ia minta diri kepada
gurunya, memang sejak semula sama sekali tidak terlintas didalam pikirannya
untuk mengadakan sebuah perjalanan, atau sebuah petualangan yang khusus. Hal
itu ternyata diketahui oleh gurunya pula, meskipun tidak dikatakannya. Dan
gurunya memberinya waktu sebulan.
Selangkah demi selangkah Agung Sedayu memasuki goa itu semakin dalam. Ia
memperhitungkan, bahwa didalam goa itu tentu ada ruangan-angan yang cukup luas
yang belum diketahuinya dimasa kanak-anak untuk melakukan sesuatu. Tidak perlu
terlalu dalam. Karena menurut perhitungannya, tidak akan ada orang yang sampai
ketempat itu tanpa maksud seperti dirinya sendiri. Dan agaknya menilik tempat
di sekitar mulut goa itu, maka daerah itu sudah menjadi semakin terasing tidak
tidak terjemah
Langkah Agung Sedayu terhenti ketika ia melihat didalam keremangan sebuah
lubang dilangit-langit goa itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia mencoba
mengamati lubang itu dengan saksama. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika
terasa olehnya hembusan angin yang bertiup dari dalam lubang itu.
“Lubang itu tentu mempunyai hubungan langsung dengan udara diluar goa,” berkata
Agung Sedayu kepada diri sendiri.
Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mencoba meraba
lubang dilangit-langit goa itu.
Keinginannya tiba-tiba sangat mendesaknya untuk mengetahui isi dari lubang itu,
dan hubungan yang langsung dengan udara diluar goa. Mungkin lubang itu akan
muncul di permukaan di tempat yang tidak diduganya.
Setelah menimbang-nimbang sejenak, maka Agung Sedayu pun kemudian menetapkan
hati untuk memasuki lubang itu. Ia tidak dapat menduga, apakah yang akan
dijumpainya didalam goa yang agaknya lebih sempit dari jalur goa yang
dimasukinya.
Sejenak kemudian, maka ia pun segera meloncat, meraih bibir lubang itu dan
kemudian dengan agak sulit ia mengangkat dirinya memasuki lubang kecil itu.
Ketika ia sudah berada didalam, maka ia melihat sebuah batu yang cukup besar,
tergolek disamping lubang itu.
“Batu ini seolah-olah dipersiapkan untuk menutup lubang kecil itu,” katanya
didalam hati.
Tetapi Agung Sedayu tidak berani mencobanya. Jika ia mencoba mengguncang batu
itu dan kemudian berguling menyumbat lubang kecil itu, maka ia tidak tahu.
apakah ada lubang lain yang dapat dipergunakannya untuk keluar, dan apakah ia
kemudian mampu menyingkirkan batu itu.
Karena itu. Agung Sedayu sama sekali tidak menyentuh batu itu. Ia pun kemudian
merangkak menyusur lubang yang sempit dengan sangat hati-hati. Tetapi
pengenalannya atas keadaan di sekitarnya telah memberikan kepadanya harapan,
karena nalurinya seolah-olah mengenal sesuatu yang diarapkan di ujung lubang
kecil itu.
Untuk beberapa lamanya ia merangkak. Namun terasa bahwa lubang itu menjadi
semakin lama semakin lebar.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika terasa angin yang silir menghembus
dari arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa memang
ada lubang tembus di ujung jalur yang sedang dilaluinya itu.
Beberapa lama ia merangkak dalam kegelapan. Meskipun demikian, dalam keremangan
itu, ia berhasil memperhatikan bentuk dinding goa itu. Dibeberapa tempat ia
menjadi curiga. Bahkan ia terhenti di sebuah tikungan, karena ia melihat
beberapa bagian dari dinding itu seolah-olah telah disentuh oleh tangan.
“Agaknya tikungan ini semula terlalu sempit,” berkata Agung Sedayu didalam
hati, “sehingga dengan demikian, seseorang telah memperlebar lubangnya sesuai
dengan lubang yang semakin lebar ini.”
Agung Sedayu justru menjadi yakin, bahwa tikungan itu memang sudah mendapat
perubahan dari bentuk aslinya.
Ketika ia melalui tikungan itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diujung
jalur kecil itu ia melihat bayangan yang semakin terang. Seolah-olah diujung
itu terdapat cahaya yang lebih banyak.
“Apakah ujung jalur ini benar-benar berhubungan dengan udara diluar? “ ia
bertanya kepada diri sendiri.
Agung Sedayu tidak merasakan pedih dilututnya oleh sentuhan batu-batu karang.
Perlahan-lahan ia maju terus, sehingga dengan dada yang berdebar-debar akhirnya
ia sampai ke mulut lubang itu.
Tetapi yang dilihatnya ternyata bukannya udara yang terang diluar goa. Lubang
itu masih belum langsung berhubungan dengan alam yang terbuka. Yang dilihatnya
adalah sebuah ruang yang cukup luas dan tidak terlalu gelap.
Perlahan-lahan Agung Sedayu memasuki lubang yang merupakan pintu masuk kedalam
ruang itu. Dengan hati-hati ia pun kemudian berdiri tegak dan memandang
kesegenap sudut. Ruang itu ternyata cukup luas. Ketika ia mengangkat wajahnya,
dilihatnya dua buah lubang yang sempit. Namun Agung Sedayu pun menjadi yakin,
bahwa kedua lubang yang sempit itu tentu menghubungkan ruang itu dengan udara
terbuka, sehingga ruang itu terasa tidak terlalu pengab dan cahaya matahari
dapat menerobos masuk meskipun tidak terlalu banyak.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia baru merasa lututnya
menjadi pedih. Ketika ia mengamat-amatinya, maka lututnya itu menjadi luka dan
berdarah.
Ternyata Agung Sedayu cukup lama merangkak didalam lubang sempit yang
berbelok-belok dengan tikungan-tikungan tajam, sehingga akhirnya ia sampai ke
sebuah ruang yang cukup luas.
Agung Sedayu itu pun kemudian duduk untuk beristirahat sejenak diatas sebuah
batu padas. Sementara itu tatapan matanya yang tajam merambat disekeliling
dinding ruangan itu. Dinding yang kotor dan penuh dengan jaring-jaring
labah-labah yang kehitam-hitaman.
Sesekali Agung Sedayu mengusap lukanya. Semakin lama terasa luka itu menjadi
semakin pedih. Sehingga Agung Sedayu pun kemudian menganggap perlu untuk
menaburkan sedikit obat luka agar lukanya tidak menjadi semakin besar karena
kotoran yang melekat dan bahkan mungkin ada sejenis racun di sepanjang lubang
goa yang panjang itu.
“Tempat ini cukup memadai,” desis Agung Sedayu, “aku ingin mendapat tempat yang
terasing seperti ini. agar aku sempat berbuat lebih banyak lagi bagi diriku
sendiri, sebelum aku berbuat sesuatu bagi padepokan kecil itu, agar apa yang
aku lakukan bukannya sekedar mainan kanak-kanak yang tidak berarti.”
Sejenak Agung Sedayu membayangkan tentang dirinya sendiri. Dengan serta merta,
atas perintah gurunya ia telah berhasil mengosongkan dirinya sendiri dari
segala unsur yang ada. Karena itulah, maka ia berharap, bahwa ia akan dapat
mengembangkannya dengan cara yang lebih baik. teratur dan terlatih, sehingga
saat-saat yang diperlukan untuk melakukannya menjadi lebih cepat dan berhasil.
Kemudian dengan demikian ia akan dapat menempatkan semua pengenalannya kembali
dalam gambaran yang jelas dan bersih.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan
memberikan bimbingan atas usahanya itu. Jika Tuhan berkenan, maka ia akan
mempunyai ingatan yang sangat tajam terhadap seggala sesuatu yang pernah
dialaminya. Bahkan ia akan dapat mengenangnya seperti ia melihatnya lagi.
Tetapi, yang dicari Agung Sedayu bukannya sekedar ketajaman ingatan. Ia ingin
membentuk dirinya. Agaknya hidup di padepokan bagi Agung Sedayu adalah hidup
yang akan dipenuhi dengan arus hubungan timbal balik. Memberi dan menerima.
Meskipun bukan dalam hubungan pemerintahan dan hubungan resmi lainnya, namun
padepokan akan tetap menjadi kiblat hidup jasmaniah dan rokhaniah bagi
orang-orang di sekitarnya. Sehingga dengan demikian, maka diperlukan bekal yang
cukup memadai.
Demikianlah maka Agung Sedayu merasa bahwa ia telah menemukan tempat yang
dicarinya. Ia tidak perlu mengembara ketempat yang jauh dan tidak dikenal.
Menyusuri lembah dan ngarai, mengitari bukit dan menembus hutan-hutan yang
lebat. Ternyata tidak terlalu jauh dari padepokannya ia telah menemukan tempat
yang memadai untuk melakukan rencananya. Mesu diri dalam batas yang
memungkinkan sesuatu dengan kodrat hidup manusia, jasmani dan rohani.
Tetapi Agung Sedayu tidak akan mulai saat itu juga. Ia harus mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Bagaimanapun juga, ia tetap seorang manusia yang memerlukan
kebutuhan-kebutuhan sehari-hari bagi ujud wadagnya. Ia harus makan, minum dan
pemenuhan kebutuhan yang lain, meskipun dalam saat-saat tertentu dapat bergerak
menurut ketentuan yang harus dibuatnya sendiri, dilakukannya sendiri dengan
tertib dan penuh ketaatan. Karena ketaatan kepada diri sendiri adalah kewajiban
yang paling sulit bagi seseorang.
Demikianlah Agung Sedayu tidak dapat melepaskan diri dari kodrat manusiawinya.
Itulah sebabnya, maka ia-pun kemudian memperhitungkan segala kerja yang harus
dilakukan.
Setiap hari ia harus merangkak keluar dari ruang itu, menyusuri lubang menuju
ke jalur goa yang lebih lebar. Ia harus menyiapkan makan dan minum, meskipun
jauh dikurangi dari kebiasaannya makan dan minum. Kemudian setelah ia selesai
dengan menyediakan makan dan minum bagi dirinya sendiri, ia harus merangkak
kembali kedalam biliknya dan mulai dengan latihan-latihan yang berat.
Pada saat ia sedang mulai, terasa betapa menjemukannya merangkak keluar dan
masuk lubang kecil itu. Ada niatnya untuk membawa mangkuk yang dibawanya dari
padepokan, dengan beberapa potong kayu yang dicarinya disekitar mulut goa itu
kedalam biliknya. Tetapi niat itu pun kemudian dibatalkannya. Merangkak jarak
yang cukup panjang setiap hari menyusuri lubang sempit kekedua arah itu
ternyata merupakan latihan tersendiri.
Dengan merangkak ia menemukan keseimbangan yang khusus bagi tubuhnya, sehingga
ia akan dapat memanfaatkan bukan saja kekuatan kaki dan tangannya, tetapi juga
otot-otot perutnya yang akan berpengaruh langsung kepada ketahanan gerak kedua
kakinya.
Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu justru memaksa diri untuk tetap hilir mudik
setiap pagi keluar lubang kecil itu.
Dari hari kehari, terasa kemajuan sedikit demi sedikit dapat dicapai oleh Agung
Sedayu yang berlatih tanpa petunjuk langsung dari gurunya. Dengan unsur-unsur
gerak yang telah dikuasainya, maka ia pun mencoba untuk menguasai dengan pasti,
penguasaan diri dan segala unsurnya. Dari hari ke hari, Agung Sedayu mendapat
kemajuan yang pesat dalam latihan-latihan pengosongan diri. Bahkan beberapa
saat yang terhitung pendek, Agung Sedayu sudah dapat melakukannya dengan batas
waktu yang jauh lebih pendek, kemudian membangkitkan bayangan pengenalannya
untuk satu pengenalan dimasa lampaunya.
Tetapi Agung Sedayu tidak hanya berlatih dalam ketajaman ingatan dan pengenalan
masa lampaunya. Dengan sungguh-sungguh ia berusaha menyempurnakan semua unsur
penguasaan diri dari dalam dirinya. Bukan latihan-latihan jasmaniah untuk
meningkatkan kecepatan bergerak, atau untuk memperkuat ayunan tangan dan kaki
semata-mata. Tetapi juga pengenalan yang lebih dalam terhadap tenaga cadangan
yang ada didalam dirinya dan hubungannya dengan tenaga yang ada didalam
sekitarnya.
Setiap hari Agung Sedayu mencoba untuk melihat kembali semua tataran yang
pernah dilaluinya. Setelah mengosongkan diri dari segala, unsur yang
dimilikinya sebagai kebulatan kecil dalam tata alam yang besar, maka ia mencoba
untuk menilai semua tataran dan tingkat yang pernah dijalani.
Dengan demikian maka Agung Sedayu menjadi semakin memahami dirinya, ilmunya
dalam hubungannya dengan perkembangan wadagnya dan halusnya, sesuai dengan
pengaruh lingkungan berdasarkan kepada landasan masa-masa sebelumnya.
Agung Sedayu dapat merasakan tepat seperti yang pernah dirasakannya. Betapa
ketakutan mencengkam dirinya. Takut kepada setiap persoalan yang dihadapinya,
apakah itu wadag, wajar, maupun halus dan yang tidak terungkapkan oleh akal.
Ia dapat mengenal, betapa ketakutan mencengkam dirinya saat-saat ia melalui
jalan yang gelap dimalam hari. tepat dibawah sebatang randu alas dan disarang
Hantu bermata Satu. Tetapi ia pun dapat merasakan kembali betapa hatinya
bagaikan mekar, saat-saat ia berhadapan dengan Sindanti justru setelah ia
menitikkan darah dari lukanya.
Dengan mengulangi setiap unsur yang pernah dipelajarinya, maka rasa-rasanya
pintu baginya semakin terbuka lebar. Seolah-olah ia mendapat petunjuk yang
pasti, bahwa ia sudah berjalan menuju kesempurnaan ilmu yang sudah dikuasainya.
Bahkan Agung Sedayu dapat mengenal unsur-unsur gerak ilmu orang-orang yang
pernah dijumpainya, terlibat dalam perkelahian dengannya atau pernah dilihat
dalam pengemukaan ilmu dimanapun juga. Agung Sedayu dapat mengingat tata gerak
dari ilmu yang samar-samar sampai ilmu yang mantap dari beberapa orang yang
tidak dikenalnya secara pribadi.
Dengan demikian, maka Agung Sedayu telah memperkembangkan ilmunya dari luar dan
dari dalam dirinya. Latihan-latihan jasmaniah dan penguasaan unsur rohaniah.
Pemusatan diri dalam penggunaan tenaga cadangan merupakan unsur yang bukan saja
bersifat jasmaniah, tetapi lebih condong pada kekuatan pemusatan ilmu itu
sendiri dalam getaran kehendak dan penguasaannya.
Namun sementara ia mesu diri, ia sama sekali tidak melepaskan hubungannya
dengan sumber segala kekuatan, segala ilmu dan segala yang ada dimuka bumi.
Yang kasat mata maupun yang tidak. Bahkan sumber dari hubungan alam yang besar
dan alam yang kecil, kebulatan tata surya dan kebulatan dalam dirinya sendiri.
Demikianlah, Agung Sedayu telah menenggelamkan diri kedalam pendalaman ilmunya
berlandaskan pengetahuan yang pernah dimilikinya dengan penuh kesadaran, bahwa
ia merupakan satu dari butiran debu yang tidak terhitung dalam lingkungannya,
sehingga ia adalah bagian yang sangat kecil dari seluruh ciptaan Tuhan.
Dalam pada itu, sementara Agung Sedayu tenggelam didalam biliknya, di Sangkal
Putung. Swandaru pun merasa perlu untuk memperkuat diri.
Dalam keadaannya, yang terpisah dari gurunya, Swandaru telah didorong oleh
suatu keinginan untuk membuat Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh menjadi
daerah yang memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.
Tetapi untuk sementara, karena ia berada di Sangkal Putung, maka Kademangan
itulah yang akan ditempanya, sebelum pada suatu saat Tanah Perdikan Menoreh pun
akan digarapnya pula berdasarkan pola yang akan dicobanya bagi Sangkal Putung.
Namun demikian, sebelum ia mulai dengan segala-galanya, maka ia sendiri, harus
mampu meningkatkan ilmu yang telah dimilikinya.
“Semuanya telah aku mengerti,” berkata Swandaru kepada diri sendiri, “menurut
guru, dasar-dasar ilmunya telah aku kuasai seluruhnya. Yang harus aku lakukan
adalah mengembangkannya sebaik-baiknya. Di Karang kakang Agung Sedayu dapat
selalu berhubungan dengan guru dalam peningkatan ilmunya. Tetapi aku harus
melakukannya sendiri.”
Karena itulah, maka Swandaru pun kemudian berusaha untuk melakukannya.
Dibangunkannya sebuah sanggar di bagian belakang kebunnya. Didalam sanggar
itulah ia melatih diri. Dimintanya isterinya untuk berlatih bersamanya, atau
memberikan beberapa penilaian, karena Swandaru pun sadar, bahwa Pandan Wangi
memiliki kemampuan yang tinggi pula.
Tetapi nampaknya Pandan Wangi tidak begitu memiliki gairah untuk berjuang
meningkatkan ilmunya. Sekali-kali nampak wajahnya bagaikan kosong sama sekali.
Namun demikian Pandan Wangi sendiri berusaha agar suaminya tidak menjadi
kecewa, sehingga bagaimanapun juga, ia selalu berusaha untuk memenuhi
keinginannya itu.
Selain Pandan Wangi, maka Sekar Mirah pun tidak mau ketinggalan. Ia sadar,
bahwa pada suatu saat kakaknya akan memerlukannya pula. Tetapi berbeda dengan
Swandaru, Sekar Mirah masih selalu mendapat bimbingan dari gurunya, karena
sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah masih memerlukannya.
Dalam saat-saat latihan yang dilakukannya dengan tekun itulah Ki Sumangkar
selalu berusaha memberikan beberapa petunjuk kepada Sekar Mirah agar ia
memiliki keseimbangan antara keinginan, cita-cita dan tempatnya berpijak.
Namun sementara itu, Swandaru lah yang ternyata memiliki gairah yang paling
besar untuk meningkatkan ilmunya. Setiap hari ia berada didalam sanggarnya
bersama-sama dengan beberapa orang pengawal yang diajaknya menjadi imbangan
berlatih, selain kadang-kadang Pandan Wangi sendiri. Latihan yang berat yang
dilakukan oleh Swandaru itu dititik beratkan kepada kemampuan jasmaninya.
Sebagaimana pandangan hidup Swandaru yang lebih banyak diarahkan kepada
pertumbuhan lingkungannya dari segi wadagnya, maka demikian pulalah cara yang
ditempuhnya untuk meningkatkan ilmunya. Cita-citanya untuk menjadikan Sangkal
Putung Kademangan yang kuat, yang unggul dalam ujud lahiriahnya dengan segala
kelengkapannya, membuat Swandaru lebih terikat kepada pembinaan lahir.
Demikianlah Swandaru melatih diri dengan berbagai macam alat. Setiap hari ia
berusaha memperkuat kedua belah tangannya dengan mengangkat dua buah batu
dikedua tangannya diatas kepalanya turun naik sampai puluhan kali. Demikian
pula dengan usahanya untuk memperkuat kakinya dan bagian-bagian tubuhnya yang
lain. Swandaru berlatih dengan sepenuh hati untuk meningkatkan kecepatannya
bergerak. Ia merasa bahwa tubuhnya yang gemuk itu merupakan sedikit hambatan
bagi tata gerak dan kecekatannya. sehingga karena itulah maka ia memerlukan
mengadakan latihan khusus untuk mempercepat tata geraknya.
Pandan Wangi yang semula sekedar mengimbangi usaha suaminya, itu pun ternyata
mau tidak mau harus ikut serta dalam arus memperdalam ilmunya pula agar ia
tidak ketinggalan jika ia harus memberikan imbangan sebagai kawan berlatih.
Tetapi seperti Swandaru maka Pandan Wangi pun lebih banyak dipengaruhi oleh
tata gerak lahiriah. Ia pada dasarnya memang memiliki ketangkasan dan kecepatan
mempermainkan senjata rangkapnya. Kakinya lincah seperti burung sikatan, dan
nafasnyapun benar-benar telah terlatih hampir sempurna.
Meskipun kedua suami isteri itu pada dasarnya bersumber pada ilmu yang berbeda,
tetapi dengan sungguh-sungguh keduanya berusaha saling mengisi dan saling
meningkatkan ilmu masing-masing. Keduanya bahkan lambat laun menemukan
persesuaikan untuk menjadikan kedua ilmu dari dua sumber itu menjadi dua aliran
ilmu yang dapat saling berpasangan.
Sementara itu. Sekar Mirah pun mempergunakan sanggar itu untuk menempa diri
bergantian waktunya dengan kakaknya suami isteri. Dibawah bimbingan dan
pengawasan gurunya, Sekar Mirah ingin mengikuti jalan pikiran Swandaru, membuat
Sangkal Putung menjadi Kademangan terkuat dan mampu menjaga diri sendiri.
Gejolak hati Swandaru itu ternyata berpengaruh pula pada anak-anak muda di
Sangkal Putung. Sebelum Swandaru terjun kedalam lingkungan para pengawal untuk
membentuk mereka, maka anak-anak muda sudah mulai dengan latihan atas kehendak
mereka sendiri dengan cara yang pernah mereka dapatkan sebelumnya.
Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berada di padepokan kecilnya, pada suatu
saat merasa didesak oleh kerinduannya kepada muridnya yang seorang. Itulah
sebabnya maka pada suatu saat, ia minta diri kepada Ki Waskita dan Glagah Putih
untuk pergi ke Sangkal Putung.
“Kiai akan pergi seorang diri?” bertanya Ki Waskita.
“Demikianlah Ki Waskita. Aku justru ingin menitipkan padepokan kecil dan Glagah
Putih kepada Ki Waskita. Aku hanya pergi untuk sehari. Meskipun malam hari, aku
tentu akan kembali karena aku tidak akan bermalam di Sangkal Putung.”
Kedatangan Kiai Gringsing di Sangkal Putung, terasa memberikan kegembiraan dan
gairah yang lebih mantap bagi Swandaru. Bagaimanapun juga kehadiran gurunya
menunjukkan kepadanya, bahwa gurunya tidak melupakannya.
“Usahamu memberikan kebanggaan padaku Swandaru,” berkata Kiai Gringsing,
“Karena dengan demikian ternyata bahwa kau tidak terhenti pada suatu tempat.
Kau akan tetap maju dengan caramu. Seperti juga aku memberikan kesempatan bagi
Agung Sedayu yang kini sedang berusaha untuk menemukan dirinya sendiri dalam
ungkapan ilmunya, karena sebenarnyalah yang aku berikan hanyalah dasarnya
semata-mata, yang masih harus dibentuk sesuai dengan kepribadianmu
masing-masing.”
Swandaru merasa bangga atas pujian itu. Dengan demikian maka gurunya tentu
merestui semua rencananya.
“Guru,” berkata Swandaru kemudian, “Anak-anak muda di Sangkal Putung ternyata
bertekad untuk membuat Kademangan ini menjadi Kademangan yang kuat, yang dapat
melindungi dirinya sendiri. Itulah sebabnya maka aku merasa perlu untuk menempa
diri lebih dahulu, sebelum aku kemudian memberikan tuntunan sekedarnya kepada
para pengawal.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Itu namanya ilmumu adalah ilmu yang
hidup. Mudah-mudahan kau berhasil.”
“Aku berharap guru merestuinya.”
“Tentu Swandaru. Aku berharap bahwa kau akan mendapatkan kemantangan ilmu yang
dijiwai oleh kepribadianmu. Yang akan memancar kemudian dari ilmumu itu justru
kepribadianmu. Jika kau orang yang rendah hati, maka akan nampak jelas, bahwa
setiap unsur gerak dari ilmumu akan kau lambari dengan dasar kepribadianmu itu.
Kau akan berhati-hati dan tidak mempergunakan kapan saja kau ingin. Kau akan
menghindari perbuatan yang dilandasi oleh kekerasan. Kau akan menganggap dirimu
kurang penting untuk menunjukkan ilmumu disetiap saat. Dan kau tidak akan sakit
hati jika orang lain menganggap ilmumu adalah ilmu yang rendah sepanjang orang
itu tidak merugikanmu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika
ilmu yang semakin masak itu dilambari dengan sifat tinggi hati, maka akan
nampak jelas pula padamu. Setiap saat kau akan menunjukkan kelebihanmu dari
orang lain. Kau akan mempunyai perasaan harga diri yang berlebih-lebihan, dan
menganggap orang lain kurang berharga. Kau akan memaksakan kehendakmu dengan
kekerasan, dan kau akan mempelihatkan betapa tinggi ilmu yang kau miliki.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergetar didalam dadanya.
Sekilas ia memang mencoba mengamati dirinya sendiri. Tetapi karena ia masih
belum berkesempatan, maka Swandaru itu pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya
saja tanpa menjawab.
Dalam kesempatan itu. Kiai Gringsing masih memberikan banyak pesan. Semakin
tinggi ilmu seseorang, maka tanggung jawabnya pun menjadi semakin berat pula.
Juga perjuangan untuk mengekang diri pun menjadi semakin rumit, karena
kecenderungan sifat manusia untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Swandaru mencoba mendengarkan dan mengerti arti dari segala pesan gurunya.
Meskipun demikian ia masih belum sempat meneliti kedalam dirinya, apakah yang
dikatakan gurunya itu sekedar pesan atau sudah merupakan suatu peringatan,
karena gejala-gejala seperti yang dikatakan gurunya itu sudah mulai nampak.
Waktu yang sehari itu ternyata dipergunakan oleh Kiai Gringsing dengan
sebaik-baiknya. Ia sempat melihat muridnya berlatih. Ia mempergunakan sedikit
waktunya untuk berbincang dengan Ki Sumangkar, untuk berbicara tentang banyak
hal dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah, dan untuk membicarakan perkembangan
Swandaru dengan Ki Demang Sangkal Putung.
“Ada yang aneh dalam pengamatan Kiai,” berkata Ki Demang, “nampaknya Swandaru
selalu dikejar oleh ketidak puasan terhadap suasana disekelilingnya.”
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itu adalah gejala yang wajar dari anak-anak
muda Ki Demang. Yang penting, kita yang tua-tua, wajib memberikan arah yang
sepatutnya.”
“Itulah yang sulit Kiai. Anak-anak muda sekarang merasa dirinya lebih pandai
dari yang tua-tua. Dan memang didalam kenyataannya, Swandaru memiliki kelebihan
daripadaku. Tetapi kelebihan dalam olah kanuragan dan mungkin juga kecerdasan
berpikir, bukannya merupakan kepastian ujud dari kelebihan pengabdian yang
wajar dan benar.”
“Kiai,” Ki Demang melanjutkan, “aku merasa, bahwa anak-anak muda cenderung
untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang tua.
Mereka juga mencoba melonggarkan ikatan-ikatan yang ada. Aku tidak berkeberatan
Kiai. Tetapi hendaknya anak-anak muda jangan menyimpang dari dasar tatanan
hidup yang pokok. Dan dalam setiap perbedaan pandangan, maka anak-anak muda
tentu menganggap orang-orang tua bersalah tanpa meneliti sebab dan akibatnya.”
KIAI GRINGSING tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan pada suatu
saat jarak antara yang tua dan yang muda itu dapat dipersempit. Jika
masing-masing pihak bersedia untuk melihat kepada diri sendiri, maka akan
diketemukan pendekatan-pendekatan yang mantap bagi masa depan.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Mereka masih berbicara beberapa lama lagi,
sehingga kemudian datang saatnya Kiai Gringsing minta diri.
“Guru tidak bermalam disini?” bertanya Swandaru ketika Kiai Gringsing minta
diri kepadanya didalam sanggarnya.
“Aku akan datang setiap kali. Padepokan Karang di Jati Anom itu sama sekali
tidak jauh. Aku akan datang kapan saja aku ingin. Apalagi nampaknya sekarang
keadaan menjadi semakin tenang.”
Kekecewaan nampak membayang di wajah Swandaru. Bagaimanapun juga ada perasaan
yang kurang mantap terhadap sikap gurunya. Bahkan kemudian terdengar ia
berdesis, “Kakang Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang lebih baik
daripadaku.”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata,
“Tidak Swandaru. Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang sama. Ia membawa bekal
yang sama denganmu. Dan berdasarkan bekal itu ia telah mencari sendiri ujud
dari ilmunya berdasarkan kepribadiannya. Kepribadian inilah yang mungkin akan
memberikan ciri yang berbeda antara kau dan Agung Sedayu dalam perkembangan
selanjutnya. Tetapi ciri-ciri tata gerak dasar kalian berdua akan tetap sama
dan sejalan.”
Swandaru tidak menyahut lagi. Namun justru karena itu, telah tumbuh dorongan
didalam hatinya, bahwa meskipun ia tidak ditunggui oleh gurunya, namun
perkembangan ilmunya tidak boleh kalah dengan ilmu yang akan dicapai oleh Agung
Sedayu.
Itulah sebabnya, sepeninggal gurunya, Swandaru justru menjadi semakin tekun
berlatih. Pandan Wangi tidak dapat ingkar lagi, bahwa ia pun harus ikut serta
dalam arus penyempurnaan ilmunya. Meskipun mula-mula ia hanya sekedar
mengimbangi dan memancing pengerahan tenaga Swandaru, namun ternyata kemudian,
bahwa Pandan Wangi pun telah melakukannya peningkatan pula dengan caranya.
Dalam waktu-waktu senggang, justru saat-saat sanggar itu belum dipergunakan,
Pandan Wangi kadang-kadang telah mendahului. Dengan langkah-langkah yang
sederhana ia mencoba mencari kesempurnaan pada ilmunya.
Berbeda dengan mereka yang berlatih dengan bekal yang ada pada dirinya. Sekar
Mirah masih tetap berada dalam bimbingan gurunya. Karena itulah maka ia tidak
mengalami kesulitan apapun juga. Namun agaknya bahwa tingkat ilmunya memang
masih belum sejajar dengan kakaknya Swandaru dan kakak iparnya Pandan Wangi.
Dengan demikian, maka Sangkal Putung pun kemudian telah diliputi oleh suasana
peningkatan ilmu. Sesuai dengan perhatian Swandaru yang lebih banyak tertuju
pada yang lahir, maka tekanan peningkatan ilmunyapun lebih banyak nampak pada
yang lahiriah. Kecepatan bergerak kekuatan tangan dan kaki, serta ketahanan,
tubuh. Namun karena ketekunannya, maka ternyata Swandaru yang pada dasarnya
mempunyai kekuatan yang besar, telah berkembang menjadi seorang raksasa yang
mengagumkan.
Namun justru karena itulah, ternyata Pandan Wangi mengalami kesulitan. Menurut
kodrat lahiriahnya, ia tidak akan dapat mengimbangi kekuatan jasmani Swandaru.
Karena itulah, maka ia harus mencari imbangan kekuatan dari dalam dirinya. Dari
kekuatan cadangan yang tersedia. Sehingga dengan demikian, ia memerlukan
latihan-latihan khusus yang terpisah.
Tetapi untuk menghindari salah paham, agar Swandaru tidak menyangkanya
menyembunyikan suatu rahasia pada ilmunya, maka ia membiarkan Swandaru
menungguinya jika ia kehendaki.
“Kau hanya membuang-buang waktu saja Pandan Wangi,” kadang-kadang Swandaru
memperingatkan.
“Aku tidak dapat berlatih seperti kau kakang. Tenagaku tidak sekuat tenagamu,
sehingga aku memerlukan kekuatan yang lain dari kekuatan wadag.”
Swandaru hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia melihat sesuatu yang lain pada
Pandan Wangi. Kekuatannya yang bagaikan berlipat meskipun hanya pada saat-saat
tertentu.
Tetapi Swandaru agaknya kurang tertarik. Ia menganggap bahwa dengan demikian,
ia mulai kehilangan kepercayaannya kepada kekuatan wadagnya, meskipun ia sadar,
bahwa dengan demikian, maka ia yang pada dasarnya memiliki kekuatan raksasa
itu, akan menjadi semakin mengerikan.
Meskipun demikian, bukannya berarti bahwa Swandaru mengabaikan kekuatan yang
memang ada pada dirinya itu. Tetapi ia menganggap bahwa apabila ia mempunyai
banyak waktu dan tidak dalam keadaan yang mendesak, maka ia baru akan mulai
mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Sementara itu didalam sebuah goa di seberang hutan tidak terlalu jauh dari Jati
Anom, Agung Sedayu pun sedang menekuni ilmunya dengan segenap hati. Perbedaan
pribadi antara Swandaru dan Agung Sedayu memang melahirkan banyak perbedaan
pada ungkapan ilmunya meskipun bersumber dari orang yang sama.
Setiap pagi Agung Sedayu masih saja merangkak melalui lubang kecil yang
melingkar-melingkar berbelok-belok turun kejalur goa. Untuk memenuhi
kebutuhannya sehari-hari, Agung Sedayu melakukan pekerjaan sewajarnya. Mencuci
beras kemudian menjerangnya sampai masak. Merebus air untuk minum dan
kebutuhan-kebutuhan yang lain sebagaimana kebutuhannya sehari-hari di
padepokan.
Namun lutut Agung Sedayu tidak terluka lagi jika ia merangkak sepanjang lubang
yang berbelok-belok itu. Bahkan dengan demikian seolah-olah ia mendapatkan
kekuatan baru pada urat-urat kaki dan tangannya.
Tetapi semakin tekun ia berlatih didalam bilik yang dialiri udara dari dua buah
lubang sempit dibagian atasnya itu, tanpa dikehendakinya sendiri, maka ia pun
menjadi semakin jarang merangkak sepanjang lubang itu. Jika mula-mula ia setiap
pagi sudah turun dari biliknya, maka dihari hari berikutnya Agung Sedayu sudah
tidak tentu lagi waktunya keluar dari dalam ruangannya. Kadang-kadang siang,
dan kadang-kadang sore. Dan bahkan kemudian, seolah-olah ia mengatur jarak yang
semakin panjang. Sehari, dua hari dan akhirnya tiga hari.
Dari segi kepentingan wadagnya, maka Agung Sedayu mengalami kekurangan makan
dan minum, sehingga ia menjadi semakin kurus karenanya. Tetapi dari segi lain,
Agung Sedayu banyak menemukan rahasia yang sebelumnya belum pernah dikenalnya.
Rahasia tentang kekuatan didalam dirinya sendiri. Bukan sekedar kekuatan yang
nampak dalam ungkapan wadag meskipun dari saluran kekuatan cadangan didalam
dirinya, tetapi juga kekuatan yang tersalur lewat inderanya yang lain.
Dihari-hari berikutnya, Agung Sedayu melatih ketajaman penglihatannya dan
kekuatan yang tersirat dari sorot matanya. Ketajaman pandangan matanya
seakan-akan dapat melontarkan kekuatan tersendiri yang tidak dapat diukur
dengan kewadagan.
Disamping penglihatannya, Agung Sedayu melatih pendengarannya. Bermalam-malam
ia duduk sambil memejamkan matanya, setelah disiang hari ia menekuni
latihan-latihan yang lain. Ia berusaha untuk dapat mempergunakan segenap indera
yang lain jika matanya tertutup atau jika ia berada di dalam gelap yang peka.
Pendengaran Agung Sedayu pun menjadi semakin tajam. Disepinya malam telinganya
sempat berlatih untuk membedakan setiap suara. Desir angin yang lembut dan
sentuhan kaki bilalang dibatu karang diatas biliknya, atau seekor cengkering
yang terperosok masuk.
Bahkan sambil memejamkan matanya ia mempertajam syaraf peraba di jari-jarinya.
Ia dapat membedakan benda apakah yang telah disentuhnya dengan jari-jarinya.
Halusnya batu karang yang diasah oleh titik air dan halusnya batu hitam yang
tergolek didalam bilik itu.
Ketajaman penciumannya pun menjadi berlipat ganda. Seolah-olah ia memiliki
naluri pada indera penciumannya untuk membedakan setiap benda meskipun ia tidak
melihatnya.
Demikianlah Agung Sedayu berlatih terus. Mengosongkan diri sudah bukan
persoalan yang sulit baginya. Dan dalam beberapa hari didalam biliknya ia sudah
mampu menyadap semua tata gerak yang pernah dikenalnya dan dikaji buruk baiknya
bagi kemantapan ilmunya.
Agung Sedayu sama sekali tidak merasa menyalahi perguruannya, karena Kiai
Gringsing selalu memberikan kesempatan kepadanya untuk memperkaya ilmunya.
Namun, meskipun demikian, Kiai Gringsing juga memberikan batasan, bahwa Agung
Sedayu harus menyisihkan ilmu yang bersumber pada kekuatan hitam. Dan Kiai
Gringsing pun telah memberikan ciri-cirinya kepadanya.
Sehingga dengan demikian Agung Sedayu dapat menyingkirkan semua tata gerak yang
sama sekali tidak menguntungkan bagi ilmunya dan bagi dirinya sendiri.
Meskipun kedua saudara seperguruan murid Kiai Gringsing itu tidak bersepakat
terlebih dahulu, namun keduanya telah bersama-sama tenggelam dalam peningkatan
diri sesuai dengan kepribadian masing-masing. Di Sangkal Putung, Swandaru
dengan tekad yang bergelora tengah menempa diri Kekuatan jasmaniahnya kian hari
menjadi kian mapan dan bagaikan bertambah-tambah. Kadang-kadang ia tidak lagi
mempergunakan senjata pedangnya untuk meyakinkan kekuatannya. Tetapi Swandaru
pun telah membuat sebuah bindi yang berat.
Dengan senjata bindi, maka perisai sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi
lawan-lawannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, maka perisai dari besi
pun dapat dirusakkannya dengan bindinya. Apalagi perisai yang dibuat dari kayu.
Sesuai dengan cara masing-masing meningkatkan ilmunya, maka sarananya pun
menjadi berbeda pula. Bahkan untuk memelihara agar tenaganya tetap utuh,
Swandaru justru makan berlipat dari biasanya. Di malam hari setelah ia
berlatih-latih mati-matian, maka ia pun selalu mencari nasi dan lauk pauknya,
sehingga Pandan Wangi yang kemudian menjadi terbiasa, tidak saja sekedar
melayaninya berlatih, tetapi juga harus menyiapkan makan dan minumnya
secukupnya.
Didalam goa. Agung Sedayu mengalami keadaan yang agak berbeda. Ia justru telah
terlibat dalam pemusatan pikiran dan indera, sehingga kadang-kadang ia lupa
untuk keluar dari biliknya dan menanak nasi. Itulah sebabnya, maka makan dan
minum pun justru menjadi terlantar.
Tetapi Agung Sedayu tidak begitu memerlukannya. Ia tidak terlalu banyak
mempergunakan tenaga wadagnya seperti Swandaru. Ia mempelajari langsung inti
dari tata gerak yang akan berarti dalam pelontaran tenaga cadangannya. Dengan
gerak yang sedikit, ia akan mampu melepaskan tenaga yang cukup besar.
Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu lebih banyak duduk bersila diatas sebuah batu
dengan tangan bersilang. Sambil memejamkan matanya, ia mulai membayangkan dalam
angan-angannya, latihan yang penuh dengan pelontaran tenaga. Semakin dalam ia
tenggelam dalam pemusatan pikiran dan indera, maka latihan yang demikian
menjadi semakin hidup didalam dirinya. Meskipun wadagnya tidak bergerak sama
sekali, tetapi rasa-rasanya Agung Sedayu telah mematangkan setiap tata gerak
dalam hubungan yang serasi dan meyakinkan.
Namun demikian, meskipun Agung Sedayu hanya duduk diatas sebuah batu, namun
dalam keadaan yang demikian, keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya bagaikan
sedang mandi.
Dalam kesempatan yang lain. Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh melatih
ketajaman penglihatannya. Bahkan Agung Sedayu telah disentuh oleh perasaan yang
lain dengan tatapan matanya. Itulah sebabnya, maka ia-pun telah mempergunakan
waktu yang khusus bagi latihan matanya.
Kadang-kadang ia duduk untuk waktu yang sangat lama sambil memandang sesuatu
yang telah ditentukannya sendiri pada dinding bilik itu. Dalam remang-remang
cahaya matahari yang masuk lewat lubang dilangit-langit bilik dalam goa itu, ia
dapat melihat benda apapun juga. Bahkan di malam hari matanya sudah mulai dapat
menembus gelap pekat meskipun untuk jarak tertentu.
Namun agaknya sesuatu telah terasa dalam getar sorot mata Agung Sedayu. Ia
tidak saja melihat benda yang dipandanginya tanpa berkedip. Tetapi ia merasa
seakan-akan ada sentuhan antara tatapan matanya dengan benda itu secara wadag.
Dengan tekun Agung Sedayu memperhatikan gejala itu. Kemudian dengan tekun pula,
berdasarkan ilmu yang ada padanya, ia mencari perkembangan dari gejala yang
diketemukan.
Sentuhan yang bersifat wadag dari tatapan matanya itu semakin lama semakin
terasa meskipun dalam hubungan yang tidak bersifat wadag. Itulah yang
senantiasa dicari Agung Sedayu dalam latihan-latihannya yang semakin lama
menjadi semakin berat.
Namun ketika terasa sesuatu telah meyakinkannya, maka ia pun kemudian
meletakkan sebuah batu kecil diatas sebuah batu padas. Ia pun kemudian duduk
bersila sambil menyilangkan tangannya didadanya. Dengan tajam ia memandangi
batu kecil itu. Semakin lama semakin tajam dan seolah-olah kemudian didunia
tidak ada benda lain kecuali batu kecil itu.
Agung Sedayu memusatkan segala pikiran dan inderanya kepada penglihatannya.
Sentuhan yang bersifat wadag dari kekuatan yang tidak bersifat wadag itu
semakin lama menjadi semakin terasa. Agung Sedayu dengan sepenuh hati
mempelajari watak dari peristiwa yang dialaminya itu. Perlahan-lahan tetap
yakin ia mencoba mempergunakan sentuhan yang bersifat wadag itu meskipun dengan
sangat hati-hati.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata batu kecil itu mulai beringsut.
Agung Sedayu menghentikan pengenalannya pada gejala baru dari ilmunya itu.
Tetapi dengan demikian ia merasa, bahwa ia telah berhasil meningkatkan
dasar-dasar yang pernah diterimanya dari gurunya dengan perkembangan yang agak
jauh, meskipun mungkin gurunya sudah mengenalnya lebih dahulu, namun dengan
sengaja tidak menunjukkanya kepadanya, agat ia mampu mencarinya sendiri.
Demikianlah latihan-latihan itu pun diulang-ulanginya. Batu yang digerakkannya
pun semakin lama menjadi semakin besar. Bahkan kemudian Agung Sedayu menemukan
gejala yang agak berbeda dalam perkembangannya. Dengan kekuatan matanya ia
mampu memecahkan sebutir batu padas yang mula-mula kecil saja. Tetapi semakin
lama semakin besar.
Karena itulah, maka Agung Sedayu pun kemudian membagi waktunya sebaik-baiknya.
Ia tidak melupakan latihan ketrampilan wadagnya. tetapi juga kekuatan-kekuatan
yang ada didalam dirinya. Bahkan kekuatan matanya yang tidak bersifat hubungan
wadag tetapi mempunyai sentuhan langsung yang bersifat wadag.
Hari-hari menjadi terlalu pendek bagi Agung Sedayu. Namun sekali-sekali ia
masih juga merangkak turun dan menyalakan api. Menjerang nasi dan air untuk
sekedar memelihara tenaga jasmaniahnya agar tidak kehilangan keseimbangan,
karena ia dalam ujudnya tidak akan dapat ingkar dari kodratnya. Bahwa untuk
keutuhan jasmaninya ia harus makan dan minum.
Jika didalam mengembangkan ilmunya, Agung Sedayu memilih tempat yang sepi dan
tersendiri, agar pemusatan pikiran dan inderanya tidak terganggu, maka Swandaru
berbuat sebaliknya. Semakin lama sanggarnya menjadi semakin ramai. Beberapa
orang yang harus membantunya menjadi bertambah-tambah sejalan dengan
perkembangan tenaga Swandaru yang semakin besar.
Namun dalam saat-saat tertentu, Swandaru juga memerlukan keterasingan.
Kadang-kadang Swandaru tidak mau diganggu oleh orang lain didalam Sanggarnya
kecuali kehadiran Pandan Wangi, dan kadang-kadang Sekar Mirah bersama gurunya.
Dengan demikian, maka perkembangan ilmu Swandaru pun telah maju dengan pesat
pula, sejajar dengan kemajuan ilmu Pandan Wangi sendiri, yang seolah-olah
sekedar terdorong kuwajibannya.
Tetapi dalam pada itu, Sekar Mirah pun telah berubah menjadi seorang yang
semakin perkasa. Tongkatnya yang mengerikan itu, benar-benar akan
mengumandangkan lagu maut ditangannya, jika ia berhadapan dengan lawan.
Ternyata bahwa Ki Sumangkar pun telah menuntun satu-satunya muridnya dengan
sungguh-sungguh. Ia tidak ingin cabang perguruannya menjadi pudar dan apalagi
punah. Karena itu, maka muridnya, serendah-rendahnya harus memiliki kematangan
ilmu seperti dirinya sendiri dalam perkembangannya nanti, sehingga bekal yang
diberikannya pun haruslah mencukupi.
Namun disamping tuntutan olah kanuragan, Ki Sumangkar pun selalu berusaha untuk
memberikan warna yang lain pada watak dan sifat Sekar Mirah. Sedikit demi
sedikit, ia berusaha untuk memberikan kesadaran kepada muridnya, bahwa yang
penting didalam hidup ini, bukannya sekedar warna-warna meriah pada segi
lahiriahnya saja. Itulah sebabnya seseorang kadang-kadang lebih condong
mementingkan kehidupan rohaniahnya saja.
“Kau tidak usah berbuat demikian,” berkata Ki Sumangkar, “kau tidak usah
mengasingkan diri untuk memusatkan segala perhatian kepada yang rohaniah.
Bagimu, jika yang rohaniah dan jasmaniah itu mempunyai keseimbangan, maka
agaknya sudah cukup memadai. Kau tetap hidup seperti yang kau hayati sekarang
didalam ujud lahiriahnya, tetapi kau juga memelihara pendekatan diri kepada
Yang Maha Kuasa, sehingga apa yang sudah kau miliki itu, kau sadari sepenuhnya,
adalah kurnianya. Dengan demikian kau akan selalu mengucapkan terima kasih dan
tidak perlu didesak oleh keinginan yang tamak untuk memiliki yang bersifat
lahiriah semata-mata.”
Jika guru memberikan petunjuk kepadanya, Sekar Mirah selalu mendengarkannya
dengan sungguh-sungguh. Sehari dua hari nasehat-nasehat itu selalu diingatnya.
Tetapi dihari berikutnya, semuanya itu mulai kabur. Meskipun pada kesempatan
lain, jika gurunya menasehatinya lagi, yang kabur itu menjadi jelas kembali.
Namun ternyata bahwa watak dan sifat Sekar Mirah telah mencengkam jiwanya
dengan kuat. Semua nasehat dan petunjuk, merupakan penghambat yang lemah.
Meskipun ada juga pengaruhnya serba sedikit.
Tetapi Sumangkar tidak jemu-jemunya. Betapa tipisnya pengaruh kata-katanya,
namun jika yang tipis itu setiap kali dipulaskannya, maka warna itu semakin
lama akan menjadi semakin tebal juga.
Dalam kesibukan itu, waktu terasa berjalan sangat cepat. Didalam ruang yang
tertutup, didalam gelapnya malam, Agung Sedayu melihat bayangan bulan yang
menyusup lewat lubang dilangit-langit. Dengan berdebar-debar Agung Sedayu
mencoba melihat bulan itu, yang ternyata bahwa bulan hampir menjadi bulat.
“Waktu itu terlalu cepat mendesakku,” desisnya, “aku masih memerlukan lebih
banyak lagi. Tetapi guru berpesan, agar aku kembali kepadepokan kecil itu saat
purnama naik.”
Bagaimanapun juga. Agung Sedayu tidak akan melanggar pesan gurunya. Meskipun
jika perlu, ia akan mengulangi lagi memasuki mulut goa di tebing sungai yang
curam itu.
Namun, yang dilakukannya kemudian adalah memanfaatkan waktu yang sempit itu
sebaik-baiknya. Dengan ketekunan yang semakin tinggi, ia berlatih terus.
Kakinya menjadi semakin cepat, dan tangannya pun mampu bergerak sehingga seolah
olah Agung Sedayu mempunyai sepuluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama.
Jika sepasang tangannya memegang senjata, maka yang sepasang itu pun
seolah-olah telah berubah menjadi sepuluh pasang senjata.
Pada saat-saat terakhir. Agung Sedayu mulai dengan mempergunakan senjata ciri
perguruannya. Setelah ia mampu mempergunakan apa saja yang ada sebagai
senjatanya, maka latihan-latihan yang terakhir dan terberat adalah
mempergunakan cambuknya.
Agung Sedayu mengenal senjatanya seperti ia mengenal anggauta badannya sendiri.
Ia tahu pasti, berapakah jumlah karah-karah besi baja yang melingkar pada
juntai cambuknya, sehingga seolah-olah dapat menghitung, berapakah karah besi
bajanya yang menyentuh tubuh lawan jika ujung cambuknya mengenai sasarannya.
Dengan latihan yang hampir sempurna. Agung Sedayu mulai mencoba mempergunakan
tenaga cadangannya yang tersalur lewat anggauta badannya dan bahkan lewat
senjatanya, sehingga tenaga yang terlontar menjadi berlipat ganda. Bahkan
dengan menyalurkan tenaga cadangannya senjatanyapun seolah-olah telah berubah
pula menjadi senjata yang luar biasa kuatnya. Cambuknya yang terbuat dari
janget tinatelon rangkat dengan karah-karah besi baja itu seolah-olah dapat
berubah menjadi serat baja yang dianyam kuat sekali, sehingga dengan sepenuh
tenaga yang tersalur, mampu membelah batu hitam.
Dengan demikian, maka cambuk Agung Sedayu itu pun telah mempunyai arti
tersendiri. Cambuk itu bagaikan mempunyai kekuatan yang tidak dapat dijajagi.
Namun dengan penuh kesabaran Agung Sedayu mengerti, bahwa bukannya cambuknya
itulah yang telah berubah dan memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang dapat
membantunya, namun kekuatan yang ada didalam cambuknya itu justru datang
daripadanya. Tanpa kekuatan didalam dirinya, cambuknya adalah sekedar janget
dengan karah-karah besi baja. Seperti cambuk yang sejak lama dimilikinya. Tidak
ada bedanya sama sekali.
Ketika waktu semakin mendesaknya lagi. maka Agung Sedayu merasa bahwa latihan
jasmaniahnya telah cukup. Yang akan dilakukannya kemudian adalah memperkuat
kekuatan didalam dirinya. Juga kekuatan matanya yang mempunyai sentuhan
bersifat wadag dengan kekuatan yang tidak bersifat wadag.
Sejalan dengan usaha terakhir pada waktu yang sempit bagi Agung Sedayu itu.
maka Swandaru yang meskipun tidak merasa dibatasi oleh waktu dan ruang, telah
meningkatkan pula latihan-latihannya. Kekuatannyapun bagaikan telah berlipat.
Seperti Agung Sedayu. maka setelah Swandaru mengalami mempergunakan berbagai
macam senjata disaat-saat latihan, ia pun akhirnya kembali kepada senjatanya
sendiri. Cambuk bercincin besi baja pada juntainya.
Dengan tenaga raksasa Swandaru merupakan orang yang sangat berbahaya dengan
senjatanya. Rasa-rasanya ujung cambuknya akan merupakan buaian maut yang sulit
dihindari.
Namun agak berbeda dari Agung Sedayu, bahwa sentuhan ujung cambuk Swandaru
adalah ayunan kekuatan tangan yang berpangkal pada tangkai cambuknya. Semakin
kuat ayunan tangan Swandaru, maka semakin dahsyatlah ledakan ujung cambuk itu.
Tetapi ternyata bahwa Swandaru tidak puas dengan karah-karah besi baja yang
melingkar pada juntai cambuknya. Ia menganggap bahwa jarak cincin itu masih
terlalu jarang. Karena itulah, maka ia telah memesan kepada seorang pandai besi
yang terbaik untuk membuat karah-karah besi baja yang terbaik pula.
“Sulit sekali,” pandai besi itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “memasang
gelang-gelang kecil pada juntai cambuk itu harus bersama-sama saat membuatnya.”
“Kau tentu mempunyai akal.”
“Aku dapat memasang lempeng-lempeng baja yang kemudian ditempa melingkar pada
juntai cambukmu,” berkata pandai besi itu, “tetapi tentu tidak akan sekuat
karah-karah baja yang merupakan cincin yang bulat.”
“Terserahlah. Mungkin memang tidak sekuat karah-karah yang sudah ada.”
Tetapi dengan lempeng-lempeng baja yang kau lingkarkan pada juntai cambuk itu
diantara karah-karah yang terlalu jarang, maka ujung cambukku akan menjadi
semakin berbahaya. Sentuhnya akan membelah kulit dan meremukkan tulang. Hanya
orang-orang tertentu sajalah yang akan dapat melawan aku.”
Pandai besi itu mengangguk-angguk. Dan ia pun melakukannya seperti yang
dikatakannya. Dibuatnya kepingan baja selebar jari. Kemudian kepingan baja itu
pun dilingkarkan seperti sebentuk cincin pada juntai cambuk Swandaru meskipun
tidak dapat melingkar seperti cincin karena ujung dan pangkalnya hanya sekedar
berpaut dan tidak menyatu seperti karah-karah yang sudah ada yang memang
berbentuk cincin. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pandai besi itu, bahwa
memasang karah-karah baja seperti itu, memang harus dilakukan pada saat cambuk
itu dibuat.
Demikianlah maka cambuk Swandaru menjadi lebih dahsyat lagi dengan
kepingan-kepingan baja yang melingkari juntainya dibeberapa bagian diantara
cincin-cincinnya. Ketika kepingan-kepingan itu telah terpasang, maka dengan
serta merta Swandaru telah mencobanya.
Ketika sebuah ledakan yang tidak terlalu keras terdengar di belakang halaman
pandai besi itu, maka robohlah tiga batang pisang sekaligus.
Swandaru tersenyum. Katanya, “Aku hanya mengayunkan dengan sebagian kecil
tanganku. Tetapi kepingan-kepingan baja itu telah membuat cambukku seakan-akan
menjadi semakin tajam.
Pandai besi itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia tersenyum ketika
Swandaru melemparkan beberapa keping uang kepadanya.
Disanggarnya Swandaru ingin mencoba mempergunakan cambuknya. Ia tidak dapat
mempergunakan seorang lawan untuk meyakinkan kekuatan senjatanya, karena hal
itu akan dapat membahayakan jiwanya. Karena itulah ia ingin mencoba betapa
dahsyat ledakan cambuknya pada seekor binatang.
“Tangkaplah seekor harimau,” perintah Swandaru kepada para pengawal. “Bukanlah
kalian dapat melakukannya dengan pasangan seperti yang sering kalian lakukan?”
Para pengawalpun melakukan seperti yang diperintahkan oleh Swandaru. Dengan
umpan seekor kambing, mereka menggali sebuah lubang didalam hutan.
Di malam hari, mereka mendengar aum kemarahan yang menggapai-gapai dari dalam
lubang yang dalam itu, sehingga mereka pun yakin, bahwa mereka telah berhasil
menangkap seekor harimau.
“Biarlah ia tetap didalam lubang itu,” berkata Swandaru, “kita akan
mengepungnya dan membiarkan ia meloncat naik.”
“Maksudmu?”
“Aku akan mencoba juntai cambukmu pada kulitnya yang liat itu.”
Dipagi harinya, sekelompok pengawal dari Sangkal Putung telah berada didalam
hutan. Atas perintah Swandaru mereka mengepung lubang perangkap itu dalam
lingkaran yang agak besar. Ditangan mereka telah tergenggam senjata telanjang.
Diantara para pengawal itu terdapat Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Sumangkar.
“Taruhlah sebatang kayu, agar harimau itu sempat naik,” perintah Swandaru.
Beberapa orang pengawal pun kemudian memasukkan sebatang kayu yang sengaja
dapat dipergunakan oleh harimau itu untuk memanjat naik.
Seperti yang diharapkan, harimau itu pun perlahan-lahan memanjat kayu yang
tersandar pada lubang yang lelah mengurungnya semalam suntuk. Namun demikian
kepalanya tersembul, maka terdengarlah aum kemarahannya karena ia melihat
beberapa orang yang berdiri dalam sebuah lingkaran dengan senjata telanjang.
Swandaru tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia-pun maju selangkah mendekati
lubang itu. Dengan ujung cambuknya ia mengganggu harimau itu agar segera
meloncat keluar dan menyerangnya.
Sejenak harimau itu masih termangu-mangu. Namun gangguan juntai cambuk Swandaru
membuatnya benar-benar semakin marah. Karena itulah, maka harimau itu pun
kemudian meloncat dengan liarnya sambil mengaum semakin keras.
Swandaru meloncat surut. Ia pun kemudian menyiapkan dirinya untuk melawan
harimau itu dengan sungguh-sungguh. Ia ingin melihat, apakah juntai cambuknya
akan mampu membelah kulit harimau itu.
Harimau itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ketika kemarahannya telah memuncak,
maka ia pun segera meloncat sambil menjulurkan kedua kaki depannya menerkam
Swandaru yang berada dipaling dekat dihadapannya.
Pada saat yang diperhitungkan itulah Swandaru meloncat kesamping. Kemudian
dengan segenap kekuatannya ia mengayunkan cambuknya kearah punggung harimau
yang menerkamnya itu.
Terdengarlah sebuah ledakan yang dahsyat, disusul oleh aum harimau yang
bagaikan membelah hutan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar